15 Tahun Disekap Orang Tua Sendiri, Airi Tewas Mengenaskan

jpnn.com, OSAKA - Rasa malu membuat pasangan suami istri asal Jepang Yasutaka Kakimoto dan Yukari Kakimoto tega mengurung putrinya selama lebih dari 15 tahun. Penyebabnya adalah sang putri, Airi Kakimoto, mengalami gangguan jiwa.
Dia dikurung di ruang sempit dan hanya diberi makan sekali. Airi yang telah berusia 33 tahun itu tewas Senin (18/12), tapi orang tuanya baru melaporkan ke polisi Sabtu (23/12).
”Kami ingin bersama dengan putri kami,” ujar pasangan Kakimoto tersebut seperti dilansir Reuters ketika ditanya kenapa baru melapor setelah sepekan.
Polisi langsung menuju rumah keluarga Kakimoto di Neyagawa, Prefektur Osaka, untuk membawa jenazah Airi. Kondisi mayat Airi sangat mengenaskan.
Tinggi badannya 145 sentimeter, tapi bobot tubuhnya hanya 19 kilogram. Berdasar hasil otopsi yang dirilis pihak kepolisian, dia meninggal karena kedinginan dan malanutrisi.
Kepada polisi, pasangan tersebut mengaku mengurung anaknya sejak usia 16 tahunan. Mereka yakin Airi mengalami gangguan jiwa dan mulai bersikap kasar.
Mereka akhirnya membuat ruangan kecil di rumahnya khusus untuk mengurung Airi yang luasnya hanya 3 meter persegi. Di dalamnya hanya ada toilet dan keran air untuk minum. Di Jepang, memiliki anak dengan gangguan kejiwaan ataupun cacat fisik adalah hal yang memalukan.
Berdasar hasil penyelidikan polisi yang dilansir Kyodo News kemarin (27/12), ruangan kecil itu memiliki pintu ganda yang hanya bisa dibuka dari luar.
Rasa malu membuat pasangan suami istri asal Jepang Yasutaka Kakimoto dan Yukari Kakimoto tega mengurung putrinya selama lebih dari 15 tahun
- Menlu China Minta Warga Jepang Setop Dukung Taiwan, Ungkit Dosa Era Perang Dunia II
- Arbani Yasiz Ungkap Alasan Melamar Kekasih di Jepang, Ternyata
- GYS Luncurkan Baja Tahan Gempa Plus, Lebih Hemat Biaya
- BNI Bersama JCB Gelar Lucky Draw Berhadiah ke Universal Studio Jepang
- Bahrain Bawa Komposisi Pemain Solid, Timnas Indonesia dan Jepang Mesti Waspada
- Kementan Bersama NCA dan UGM Menggelar Konsultasi Bekerja di Pertanian Jepang