60 Detik Mampu Tembakkan 3.000 Peluru

Karena itu, di Markas Komando Dislitbangad, berjejer sejumlah senjata yang sedang diuji coba di laboratorium.
Di antaranya, rancang bangun alat bidik, rancang bangun senjata multilaras, rancang bangun pengolah air, rancang bangun pesawat tanpa awak, prototipe kendaraan amfibi, serta senjata api otomatis.
Ada yang sudah dinyatakan lulus uji dan mendapat sertifikat. Ada pula yang masih dalam proses pengembangan.
Untuk dinyatakan lulus sertifikasi, setiap alutsista mesti menjalani ’’penyiksaan’’ lebih dulu.
Misalnya, rancang bangun senjata multilaras. Sampai saat ini, senjata itu masih dikembangkan Dislitbangad.
Padahal, kemampuannya sudah mentereng. Dari uji coba terakhir tercatat, senjata itu mampu menembakkan 3.000 peluru per menit. Jarak tembaknya juga cukup jauh.
’’Efektifnya 600 meter. Tapi, bisa lebih dari satu kilometer,’’ kata Mayor Inf Darmaji, kepala Seksi Rencana Kegiatan Bagian Materiil Umum Subdis Materiil Dislitbangad.
Dia termasuk salah seorang prajurit yang terlibat dalam pengembangan senjata tersebut.
Dalam perang, yang utama bukan hanya kemampuan prajurit. Kemampuan senjata juga memegang peran vital.
- Kebakaran Menghanguskan 18 Rumah Dinas TNI di Aceh
- 5 Berita Terpopuler: Permintaan Kepala BKN Sangat Serius, Pengangkatan PPPK Bakal Tuntas 2025, Ini Buktinya
- Kerja Sama TNI-Unud Disorot, Kolonel Agung Bilang Begini
- TNI AL Siapkan Pasukan dan Alutsista untuk Operasi Kemanusiaan Korban Gempa Bumi di Myanmar
- Muncul Gerakan Kontra UU TNI, Nama Presiden Prabowo Disorot Warganet
- Gelar Perkara Kasus Pembunuhan Juwita Dilakukan Tertutup, Ada Apa?