74 Twin Block Rusunawa Tidak Dihuni
Rabu, 16 Maret 2011 – 16:01 WIB

74 Twin Block Rusunawa Tidak Dihuni
JAKARTA - Sebanyak 74 twin block (TB) rumah susun sewa (rusunawa) yang dibangun pada periode 2005-2009, diketahui tidak dihuni. Itu belum termasuk (sebanyak) 49 TB yang dibangun pada 2010. Kondisi ini pun lantas menimbulkan tanda tanya bagi anggota Komisi V DPR RI. Pasalnya, untuk membangun rusunawa tersebut, anggaran yang dikeluarkan tak sedikit.
"Kami prihatin sekali. Uang negara sudah banyak terbuang di situ. Begitu rumahnya jadi, malah tak dihuni," kritik Sadarestu Wati, anggota Komisi V DPR RI, dalam rapat kerja (Raker) dengan Menteri Negara Perumahan Rakyat (Menpera) Suharso Monoarfa, Rabu (16/3).
Politisi PDIP ini menilai, tidak dihuninya rusunawa itu adalah karena analisa pemerintah akan lokasi yang cocok untuk pembangunan rumah vertikal tersebut tak tepat. "Namanya saja rumah susun sewa, jadi masyarakatnya enggan tinggal. Bisa juga rusunawa-nya dibangun di lokasi yang tidak tepat. Ambil contoh di Marunda, yang kosong melompong," ujarnya.
Senada dengan itu, Joseph Nasoey mengatakan, pemerintah perlu mencari tahu penyebab hingga rusunawa-nya tidak dihuni. Dia mengkhawatirkan, bila rusunawa tersebut tidak dihuni selama lima tahun, pada akhirnya akan rusak. "Kalau sudah rusak, nanti pemerintah minta tambahan anggaran lagi untuk pembangunan rusunawa. Bagaimana bisa kami tambah, kalau yang ada saja tidak digunakan?" ucapnya.
JAKARTA - Sebanyak 74 twin block (TB) rumah susun sewa (rusunawa) yang dibangun pada periode 2005-2009, diketahui tidak dihuni. Itu belum termasuk
BERITA TERKAIT
- Universitas Sunan Gresik - Politeknik Kirana Teken MoU, Lulusan Bisa Langsung Kerja di Lion Air Group
- Pramono Tegaskan Tidak Ada Pemutihan Pajak Kendaraan Bermotor di Jakarta
- Alasan Jokowi Melaporkan Masalah Ringan Itu kepada Polisi
- Menhan Sjafrie Mengusulkan Tunjangan Operasi Prajurit TNI Naik 75 Persen
- KPK Periksa 3 Saksi Terkait Dugaan Korupsi di Lingkungan Bea Cukai
- Usut Korupsi Tol Trans-Sumatera, KPK Periksa Petinggi PT Indonesia Infrastructure Finance