Ada Usulan Agar Australia Mengeluarkan Visa Baru Bagi Jagoan Sains dan Teknologi

Namun dia mengakui bahwa mahasiswa S3 khususnya dari ilmu-ilmu STEM sudah menderita karena proses visa yang panjang yang bisa merusak citra penelitian Australia.
"Adalah hal yang tidak bisa diterima jika beberapa mahasiswa harus menunggu keputusan lebih dari 12 bulan dan pada dasarnya hidup mereka tidak bergerak," ujarnya.
Ia juga mengatakan penundaan pemberian visa bagi peneliti STEM asal luar negeri adalah sebuah masalah global "di tengah meningkatnya pengecekan keamanan" di kalangan para peneliti, dan Australia mengalami masalah lebih besar dibandingkan negara lain, seperti Inggris.
"Namun pada akhirnya semua adalah keputusan pemerintah," ujarnya.
"Apa yang ingin kami katakan adalah bisakah mereka membuat keputusan dalam waktu lebih singkat?"
Dalam waktu bersamaan Australia sangat memerlukan pekerja STEM berketerampilan tinggi dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan.
Data dari pemerintah menunjukkan sejak tahun 2016, pekerja di sektor STEM di Australia sebagian besar adalah pekerja migran, dengan enam dari 10 staf STEM di universitas di Australia lahir di luar negeri.
Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari ABC News
Australia sangat memerlukan peneliti yang punya keahlian tinggi di bidang sains, teknologi, teknik dan matematika (STEM)
Redaktur & Reporter : M. Adil Syarif
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana
- Kabar Australia: Pihak Oposisi Ingin Mengurangi Jumlah Migrasi