Adu Panco Taruhan Potong Telinga

jpnn.com - SIBERIA- Ini benar-benar tindakan konyol. Dua pria Rusia dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami cidera cukup serius. Salah satu telinga kedua pria itu kini tak lengkap lagi gara-gara kalah kontes adu panco.
Aksi nekat sekaligus konyol kedua pria yang tak disebutkan namanya tersebut, terjadi karena mereka dalam kondisi mabuk berat.
Mengutip media setempat, situs berita Mirror menyebutkan, kedua pria asal daerah pertambangan Siberia itu bertemu di sebuah bar saat perayaan Natal Ortodoks pada Selasa (7/1) lalu.
Sudah jadi tradisi di Siberia, perayaan natal dirayakan dengan mabuk-mabukan. Nah, di saat mabuk berat itulah mereka kemudian bertaruh siapa yang paling kuat dengan adu panco.
Maka diputuskan taruhan paling menantang sekaligus berisiko yakni bagi yang kalah harus memotong telinga sendiri dengan pisau.
Pertandingan pertama salah satu pemabuk kalah dan harus memotong sebagian telinganya. Bukannya kapok, dia malah menantang lagi sang lawan dan ternyata menang. Giliran pemabuk kedua telinganya harus dipotong sebagian.
Tak puas dengan skor imbang dan telinga masing-masing putus sebagian, keduanya sepakat bertanding lagi. Skor terakhir si pemabuk pertama kembali kalah. Konsekuensinya seluruh telinga kirinya dipotong habis oleh tangannya sendiri.
"Salah seorang seluruh telinganya terpotong habis, seorang lagi sebagian telinganya terpotong," ucap juru bicara kepolisian setempat seperti dikutip dari laman The Mirror, Sabtu (11/1). (pra/jpnn)
SIBERIA- Ini benar-benar tindakan konyol. Dua pria Rusia dilarikan ke rumah sakit setelah mengalami cidera cukup serius. Salah satu telinga kedua
Redaktur & Reporter : Tim Redaksi
- Lebih dari 3.000 Orang Tewas Akibat Gempa Myanmar
- Update Gempa Myanmar: Korban Meninggal Dunia Mencapai 2.800 Orang
- Amerika Bakal Persulit Pemohon Visa yang Suka Menghina Israel di Medsos
- Gempa Bumi Kembali Terjadi di Myanmar Hari Ini
- Korban Tewas Gempa Myanmar Mencapai 2.700 Orang, BNPB Beri Info soal WNI
- Indonesia Berangkatkan Pasukan Misi Kemanusiaan Gempa ke Myanmar