Ahli Paru: Tradisi dan Budaya Merokok Harus Diubah

Sebagai solusi utama, Rudy mengingatkan hal penting bagi masyarakat yang ingin sekali berhenti merokok adalah menciptakan kondisi lingkungan yang sehat dengan memulainya dari niat dan berkonsultasi kepada dokter.
"Juga menghindari stres, berolahraga rutin, dan pola makan serta pola istirahat yang baik bagi tubuh sekaligus berdoa kepada Yang Maha Kuasa," kata Rudy.
Rudy mengatakan perokok di tanah air harus menjadi perhatian karena data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat jumlah perokok di atas 15 tahun sebanyak 33,8 persen. Dari jumlah tersebut 62,9 persen merupakan perokok laki-laki dan 4,8 persen perokok perempuan.
Dokter Rudy juga menjawab tentang adakah sisi positif dengan merokok? Menurut dia, hal positif merokok hanya sejumlah 0,000001 persen, yaitu timbulnya efek relaksasi (perasaan tenang yang semu) pada saat mengisapnya.
Baca Juga: Permintaan Pak Najamuddin Tegas, Tinjau Ulang Penghapusan Honorer
Namun, pada dasarnya hal tersebut merupakan pemenuhan kecanduan nikotin yang sudah ada dan terus mengirimkan "sinyal terpenuhi" dalam tubuh perokok.
"Tradisi dan budaya merokok harus diubah untuk mengurangi dampak negatif dari rokok dan mengutamakan kemaslahatan masyarakat," tutur Rudy.
Jika dilihat dari karakteristik dan perilakunya, kata dia, upaya untuk mengatasi masalah rokok di Indonesia harus melalui berbagai pendekatan, baik budaya, kesehatan, ekonomi, regulasi dan komunikasi.
Ahli paru dari Siloam Hospitals dr. Rudy Irawan menyebut tradisi dan budaya merokok harus diubah, karena jumlah perokok di Indonesia tertinggi di ASEAN.
- Momen Santap Lebaran, Pakar Gizi Ingatkan Hal Penting Ini
- Universal Eco Kelola Lebih dari 5.000 Ton Limbah Medis Sepanjang 2024
- 7 Herbal Terbaik untuk Meningkatkan Nafsu Makan
- Bea Cukai Probolinggo Musnahkan Barang Hasil Penindakan Sepanjang 2024, Ada Rokok
- MPKI: Kepala Daerah Bertanggung Jawab Melindungi Ekosistem Pertembakauan Nasional
- Puasa Sehat dengan Olahraga, Rahasia Fit selama Ramadan