Akankah Erdogan Effect di Turki Merembet ke Pilpres RI?
Oleh Dhimam Abror Djuraid

Jajak pendapat dari berbagai lembaga survei selama beberapa pekan menunjukkan Kilicdaroglu lebih unggul dibandingkan Erdogan. Hasil survei itu dipublikasikan seiring dengan kencangnya persepsi popularitas Erdogan tergerus tingginya inflasi dan melonjaknya biaya hidup.
Salah satu lembaga survei menyebutkan Kilicdaroglu akan menang satu putaran. Ternyata semua ramalan itu meleset.
Melihat kenyataan ini, jurnalis David Hearst menyimpulkan bahwa Erdogan tidak disukai oleh Barat bukan karena ia otoriter dan tidak demokratis. Erdogan tidak disukai karena dia pemimpin yang independen dan tidak bisa disetir oleh kepentingan luar.
Erdogan bukan pemimpin tipe Mr Yesman alias Pak Penurut yang hanya menjadi boneka kekuasaan.
Erdogan effect menjalar ke berbagai belahan dunia Islam, termasuk Indonesia. Hal yang sama terjadi ketika Datuk Anwar Ibrahim terpilih sebagai perdana menteri Malaysia 2022 yang lalu.
Ada gelombang Anwar Ibrahim effect yang diharapkan menjadi tonggak kebangkitan politik Islam yang toleran tetapi independen.
Isu independensi dalam pemilu presiden Indonesia 2024 menjadi perdebatan panas. Ada calon-calon presiden yang dianggap tidak independen karena menjadi petugas partai, atau menjadi penerus petahana.
Ada juga calon presiden yang independen, tidak menjadi boneka, dan menjanjikan perubahan.
Pemilu Turki kali ini adalah pertarungan identitas antara politik Islam melawan politik liberal yang ingin mengembalikan Turki sebagai bagian dari Barat.
- Dunia Hari Ini: Unjuk Rasa di Turki Berlanjut, Jurnalis BBC Dideportasi
- Ikuti Jejak Anies, Pramono Gratiskan Pajak Rumah dengan NJOP di Bawah Rp 2 Miliar
- Fajar Alfian Minta Maaf Atas Ucapannya kepada Simpatisan Anies
- Tom Lembong Jalani Sidang Perdana, Istri Hingga Anies Memberikan Dukungan
- HNW Dukung Usulan Erdogan Soal Hak Veto di DK PBB untuk Negara Mayoritas Muslim
- Gerakan Rakyat Bakal Jadi Parpol, Lalu Dukung Anies, Pengamat Ungkap Indikasinya