Aksi Keji Tentara Jepang di Pulau Bangka Saat Perang Dunia II Akhirnya Terungkap

'Kejahatan perang telah disensor'
Mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di Pulau Bangka sudah menjadi obsesi Georgina Banks, seorang penulis selama bertahun-tahun.
Tantenya yang juga seorang perawat, Dorothy Gwendoline Howard Elmes, akrab dipanggil Bud atau Benda, adalah korban tewas dalam pembantaian tersebut.
Termasuk dalam koleksi dokumen yang dimiliki oleh Vivian yang disimpan di Australian War Memorial adalah surat-surat yang ditulis kepadanya dari para sanak keluarga perawat yang tewas.
"Dear Sister Bullwinkel," tulis Evie, tante dari Bud pada tanggal 5 November 1945.
"Kamu pasti mendapat begitu banyak surat dari teman atau sanak keluarga dari para perawat yang menjadi korban pembantaian ini."
Evie mendengar rumor jika para perawat tersebut mati dengan mengenaskan.
"Saya berharap kamu bisa menceritakan kepada saya bahwa Benda tidak mati karena tusukan bayonet," tulisnya.
Kurang dari sebulan kemudian, giliran Dorothy, ibu dari Bud yang menulis kepada Vivian.
Vivian Bullwinkel adalah satu-satunya yang selamat dari pembantaian tentara Jepang di Pulau Bangka
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana
- Kabar Australia: Pihak Oposisi Ingin Mengurangi Jumlah Migrasi
- Dunia Hari Ini: Unjuk Rasa di Turki Berlanjut, Jurnalis BBC Dideportasi
- Dunia Hari Ini: Kebakaran Hutan di Korea Selatan, 24 Nyawa Melayang