Ambrosius Ruwindrijarto, Aktivis Lingkungan Peraih Ramon Magsaysay Award 2012
Sempat Diculik dan Disiksa Preman Cukong Kayu Liar
Kamis, 02 Agustus 2012 – 04:44 WIB

Ambrosius Ruwindrijarto. Foto : M Dinarsa Kurniawan/Jawa Pos
Suami Cicila Debby itu menjelaskan, masyarakat Dayak Benuaq terusir dari hutan saat zaman kerajaan dan era kolonial Belanda. Mereka kembali menghuni hutan itu setelah Indonesia merdeka. Namun, belakangan mereka kembali terusir setelah masuknya sejumlah korporasi yang diberi pemerintah konsesi untuk mengelola tanah adat melalui hak pengelolaan hutan (HPH).
"Kami menemani mereka untuk berjuang mendapatkan hak atas tanah adat mereka. Sebagai pemilik tanah secara historis, mereka punya hak untuk tidak menjual tanah mereka," papar Ruwi.
Telapak mengapresiasi langkah pemerintah dalam pengelolaan hutan. Tapi, hasilnya masih parsial. Dibutuhkan solusi holistis yang menguntungkan semua pihak dalam menyelesaikan masalah yang disebutnya sebagai sebuah bencana ekologi.
Menurut dia, salah seorang birokrat di pemerintah revolusioner yang punya ide-ide cemerlang adalah Menteri BUMN Dahlan Iskan. Ruwi menyimpan keinginan untuk berjumpa dengan Dahlan dan berbagi ide.
Perjuangan tak kenal lelah Ambrosius Ruwindrijarto berbuah manis. Kerja kerasnya sebagai aktivis lingkungan membuatnya menerima Ramon Magsaysay Award,
BERITA TERKAIT
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu
- Kontroversi Rencana Penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer, Apresiasi Terhalang Stigma Kiri
- Kisah Jenderal Gondrong ke Iran demi Berantas Narkoba, Dijaga Ketat di Depan Kamar Hotel
- Petani Muda Al Fansuri Menuangkan Keresahan Melalui Buku Berjudul Agrikultur Progresif
- Setahun Badan Karantina Indonesia, Bayi yang Bertekad Meraksasa demi Menjaga Pertahanan Negara