Amerika Curigai Pekerja Perusahaan China di Kuba

jpnn.com, NEW YORK CITY - Amerika Serikat mengawasi para pekerja dari perusahaan besar telekomunikasi China di Kuba, menurut laporan Wall Street Journal pada Rabu.
Para pekerja itu diduga melakukan operasi mata-mata di pulau itu selama masa jabatan mantan Presiden AS Donald Trump.
Pejabat AS meninjau data intelijen yang melacak pekerja yang masuk dan keluar dari fasilitas sejumlah perusahaan China, yaitu Huawei Technologies dan ZTE.
Fasilitas tersebut diduga menjadi tempat operasi mata-mata di pulau Karibia itu, menurut harian tersebut yang mengutip sumber yang mengetahui masalah tersebut.
"Intelijen menunjukkan kecurigaan di dalam pemerintahan Trump bahwa perusahaan telekomunikasi itu kemungkinan berperan dalam melebarkan kemampuan China untuk memata-matai AS dari pulau itu," sebut Wall Street Journal.
Menurut harian itu, tidak jelas apakah pemerintahan Biden saat ini akan terus melanjutkan untuk melacak para pekerja.
Huawei menyangkal laporan tersebut dan menyebutnya "tuduhan tanpa dasar", dan ZTE tidak menanggapi permintaan untuk komentar, kata laporan itu.
Pada Selasa, Mike Gallagher, ketua Komite Kongres AS tentang Partai Komunis China, mengirimkan surat kepada Direktur Intelijen Nasional Avril Haines dan Menteri Perdagangan Gina Reimondo, meminta penjelasan mengenai kebijakan AS untuk mengendalikan ekspor teknologi Amerika kepada perusahaan-perusahaan telekomunikasi China.
Amerika Serikat mengawasi para pekerja dari perusahaan besar telekomunikasi China di Kuba, menurut laporan Wall Street Journal pada Rabu
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Kanselir Jerman Sebut Donald Trump Merusak Tatanan Niaga Global
- Marwan Minta Pemerintah Antisipasi Dampak Tarif Impor Baru yang Diumumkan Trump
- Amerika Bakal Persulit Pemohon Visa yang Suka Menghina Israel di Medsos
- Donald Trump Makin Berniat Mencaplok Greenland
- Dunia Hari Ini: Amerika Serikat Krisis Telur, Sampai Terpaksa Impor