Anak Pungut

Oleh: Dahlan Iskan

Anak Pungut
Dahlan Iskan. Foto/ilustrasi: Ricardo/JPNN.com

Saat itulah Mudrick minta agar PPP Solo merekrut anak-anak muda. Mahasiswa. Harus banyak anak muda jadi calon anggota DPRD dari PPP.

Salah satunya Boyamin yang saat itu masih mahasiswa hukum semester lima.

Tentu banyak tokoh PPP yang protes. Mereka takut tergeser dari kursi DPRD, apalagi orang seperti Boyamin ditempatkan di "nomor jadi". Yakni nomor urut empat. Pasti jadi.

Sebelum itu saja PPP sudah punya enam kursi.

Mudrick tahu Boyamin sering ikut demo mahasiswa. Anti-Orde Baru. Anti-Soeharto. Cocok dengan sikapnya sendiri.

Dan lagi Mudrick kenal kakak Boyamin: Ketua PPP Ponorogo. Boyamin pun dianggap kader murni PPP.

Strategi Mudrick berhasil. PPP mendapat 15 kursi. Meroket. Yang protes karena dapat "nomor sepatu" pun puas. Ternyata tetap terpilih.

Memang situasi politik saat itu sangat menguntungkan PPP Solo. Megawati lagi terzalimi –pun oleh partainya sendiri.

Tiga bulan sebelum meninggal Minggu kemarin pun Mudrick Sangidu masih demo. Tahun-tahun belakangan demonya tetap: tentang Presiden Jokowi.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News