Angkut 1.525 Bambu via Kapal Laut hingga ke Hamburg

Ada sekitar 25 bambu petung yang dimasukkan ke pipa-pipa di dalam footing itu. Konstruksi tersebut dapat menahan ’’daun-daun’’ pohon bambu berukuran 10–12 meter di atasnya. Untuk membuat ’’pohon’’ bambu itu, Joko mengalokasikan waktu selama 21 hari. Dia tidak bekerja sendiri. Dia dibantu tiga asisten dan seorang bagian dokumentasi.
’’Semua kami kerjakan sendiri. Kalau merekrut pekerja dari Jerman, bayarnya mahal. Sehari Rp 1 juta. Saya tidak kuat membayarnya,’’ ujar alumnus ITB itu.
Bagaimana halnya dengan hawa dingin di Jerman nanti? Joko tidak khawatir. Dia justru merasa terbantu. Sebab, berdasar pengalamannya, bambu akan semakin kukuh dan kuat jika disimpan di tempat yang dingin. Yang dia khawatirkan justru saat pembuatan seni instalasi tersebut. Dengan suhu udara yang cukup dingin, mereka butuh effort lebih untuk bekerja di luar ruangan.
’’Rata-rata suhu di sana 3-15 derajat Celsius. Dengan suhu 9 derajat Celsius saat survei beberapa waktu lalu saja, tangan saya sudah tidak bisa menekan tombol kamera. Apalagi di bawah itu,’’ tandas Joko. (*/c5/ari)
DI tangan seniman Joko Dwi Avianto, bambu dijadikan karya seni instalasi yang spektakuler. Karya itu akan dipamerkan di Frankfurter Kunstverein,
Redaktur & Reporter : Tim Redaksi
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu
- Kontroversi Rencana Penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer, Apresiasi Terhalang Stigma Kiri
- Kisah Jenderal Gondrong ke Iran demi Berantas Narkoba, Dijaga Ketat di Depan Kamar Hotel
- Petani Muda Al Fansuri Menuangkan Keresahan Melalui Buku Berjudul Agrikultur Progresif
- Setahun Badan Karantina Indonesia, Bayi yang Bertekad Meraksasa demi Menjaga Pertahanan Negara