Anies Baswedan Jelaskan Logika Ekonomi DKI Tumbuh Negatif di Masa Pandemi

jpnn.com, JAKARTA - Pertumbuhan ekonomi DKI Jakarta pada 2020 mengalami kontraksi. Badan Pusat Statistik (BPW) mencatat ekonomi ibu kota pada tahun lalu tumbuh minus 2,36 persen dibandingkan 2019.
Menurut Gubernur DKI Anies Baswedan, pertumbuhan ekonomi provinsinya selama dua triwulan terkontraksi. Pada triwulan ketiga 2020, ekonomi DKI tumbuh minus 3,82 persen dibandingkan 2019.
Namun pada triwulan selanjutnya ekonomi DKI terkerek meski masih minus. Pada triwulan keempat 2020, perekonomian DKI tumbuh minus 2,14 dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.
Anies mengatakan, hal yang patut dicermati ialah penyebab perekonomian di DKI mengalami kontraksi. Menurutnya, kondisi itu tak terlepas dari pandemi Covid-19 yang memaksa masyarakat membatasi aktivitas.
"Penyebabnya adalah interaksi berkurang, kegiatan transaksi menurun," ujarnya kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Kamis (18/2).
Mantan Rektor Universitas Paramadina itu memastikan penyebab perekonomian DKI tumbuh minus bukan berkurangnya investasi.
"Bukan salah hitung, bukan kurang investasi. Penyebabnya karena interkasi berkurang dan transaksi menurun," katanya.
Lebih lanjut mantan menteri pendidikan dan kebudayaan itu mengatakan, syarat untuk mengubah perekonomian DKI kembali stabil ialah warganya harus sehat pada masa pandemi Covid-19. Dengan demikian ada interaksi masyarakat yang menggerakkan perekonomian.
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan membeber penyebab perekonomian di provinsinya tumbuh negatif.
- Analis Sebut Kans Ekonomi Indonesia Alami Perkembangan Progresif
- Menteri ESDM: Mudik 2025 Dorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah
- Muhammadiyah Jakarta Minta Izin kepada Pramono Terkait Pembangunan Universitas
- Ikuti Jejak Anies, Pramono Gratiskan Pajak Rumah dengan NJOP di Bawah Rp 2 Miliar
- Pram-Rano Cairkan Bansos Rp 900 Ribu untuk Penerima KLJ, KAJ, dan KPDJ
- Damkar DKI Tangani 6.800 Kasus Lainnya di 2024, 4 Kali Lipat Melebihi Kebakaran