Apa Bedanya Dimas Kanjeng dengan Aa Gatot?

jpnn.com - JAKARTA - Ketua Komisi VIII DPR RI, M Ali Taher menilai kegiatan di Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi merupakan penyalahgunaan simbol-simbol agama.
Menurut dia, kejadian serupa sudah sering terjadi di banyak tempat dan selalu menggunakan simbol-simbol agama dan pendidikan.
"Setahu saya, modus penggunaan simbol-simbol agama dan pendidikan untuk kepentingan sesaat sering terjadi. Sebelum Dimas Kanjeng, kasus Gatot Brajamusti di Sukabumi, apa bedanya? Tetap saja penyakit sosial," kata Ali di gedung DPR, Senayan Jakarta, Kamis (6/10).
Dia menambahkan, mengorbankan nilai-nilai agama untuk berbagai kepentingan jangka pendek jelas tindakan yang tak benar. Karenanya ia menegaskan, hal semacam itu harus diberantas karena mencerminkan penyakit sosial.
"Jadi, tidak hanya Dimas Kanjeng, tapi siapa pun. Persoalan-persoalan itu bagian dari penyakit sosial yang harus diberantas," tegasnya.
Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) itu menambahkan, misi agama pasti menekankan pentingnya kejujuran, keikhlasan dan kebenaran. Sementara dalam kasus Dimas Kanjeng, yang muncul justru ketidakjujuran.
"Jika yang dikehendaki itu adalah materi, maka pasti menghalalkan segala cara. Jadi, siapa pun, termasuk jenderal, polisi, kaum intelektual, yang terlibat dalam proses penggandaan uang itu, sangat disayangkan," pungkasnya.(fas/jpnn)
JAKARTA - Ketua Komisi VIII DPR RI, M Ali Taher menilai kegiatan di Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi merupakan penyalahgunaan simbol-simbol agama.
Redaktur & Reporter : Tim Redaksi
- Polisi Berlakukan Contraflow di Jalur Nagreg Menuju Bandung
- Golkar Aceh Mendukung Program PP AMPG untuk Bersihkan 444.000 Rumah Ibadah di Indonesia
- Arus Balik Lebaran, ASDP Imbau Pemudik Beli Tiket Sebelum ke Pelabuhan
- Warga Bojongsoang Geger Temuan Mayat Bayi di Tumpukan Sampah
- Soal Kebijakan Tarif Trump, Indonesia Diusulkan Dorong WTO Menyehatkan Perdagangan Global
- Polres Tanjung Priok Intensifkan Patroli Selama Libur Lebaran