Apa yang Terjadi Setelah WHO Nyatakan Virus Corona Sebagai Darurat Global?

Meskipun WHO tidak memiliki kewenangan hukum untuk menjatuhkan sanksi kepada suatu negara, namun badan PBB ini dapat meminta alasan ilmiah dari pemerintah suatu negara terkait pembatasan perjalanan atau perdagangan atas wabah Virus Corona.
Namun di lapangan, sejumlah negara telah membatasi perjalanan pribadi ke dan dari China setelah merebaknya wabah.
Australia misalnya, secara resmi meminta warganya untuk "mempertimbangkan kembali kebutuhan untuk melakukan perjalanan" ke China ketika wabah sedang berlangsung.
Amerika Serikat dan Inggris telah memberikan peringatan serupa. Hong Kong bahkan memutus hubungan transportasi dengan China daratan, mengurangi separuh jumlah penerbangan dan menangguhkan layanan kereta api dan feri berkecepatan tinggi.
Beberapa negara bahkan melangkah lebih jauh lagi. Korea Utara kini tidak mengizinkan masuknya turis China, Papua Nugini memberlakukan larangan total terhadap semua pelancong dari "pelabuhan Asia".
Kasus darurat PHEIC sebelumnya
PHEIC merupakan konsep yang relatif baru, dan sebelumnya hanya diterapkan pada lima peristiwa darurat lainnya.
Menurut pakar infeksi Tom Solomon dari Universitas Liverpool, wabah SARS 2002-2003 mendorong lahirnya istilah tersebut.
Wabah SARS merenggut nyawa 700 orang lebih dan menginfeksi 8.000 orang lainnya.
Setelah organisasi kesehatan dunia WHO mengumumkan status keadaan darurat global wabah Virus Corona, sejumlah pihak khawatir perekonomian China akan terdampak
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana
- Kabar Australia: Pihak Oposisi Ingin Mengurangi Jumlah Migrasi