Arah Baru Arab Saudi: Menjauh dari Amerika, Mendekat ke Rusia

Kontak-kontak informal sudah dijalin dengan Iran, melalui pemerintahan Irak ang sama-sama Arab tetapi berpemerintahan dan berpenduduk mayoritas Syiah seperti Iran.
Bukan hanya dengan Iran, Saudi juga tak lagi keras terhadap Israel, sampai membiarkan sekutu-sekutunya seperti Oman, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Maroko, menormalisasi hubungan diplomatik dengan Tel Aviv.
Di pelataran global lainnya, Saudi tak lagi cuma melihat kawan dari satu keyakinan.
Mereka kini melihat mitra dari perspektif yang lebih pragmatis, bahwa apakah negara itu secara ekonomi menguntungkan Saudi atau tidak.
Itu adalah manifestasi lain dari sikap menomorsatukan kepentingan nasionalnya.
Ekspresi nyata dari sikap itu tercermin dari saat mereka menswastanisasi perusahaan minyak terbesar di dunia, Saudi Aramco.
Para penguasa Saudi dipimpin Raja Salman, malah safari ke Asia Timur untuk menjumpai Indonesia dan berakhir di China, karena uang ada di sini, karena yang mampu membeli minyak Saudi Aramco ada di kawasan ini.
Tak hanya itu, Saudi tak mau lagi hidup dalam satu opsi sekutu, entah itu Amerika Serikat atau lainnya. Mereka bahkan tak ingin lagi mewajibkan konsumen minyaknya memakai dolar AS.
Saudi bahkan sudah tak lagi ingin menjadi dermawan tanpa pamrih bagi tetangga-tetangganya di dunia Arab atau negara-negara Muslim lain di dunia ini
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Kanselir Jerman Sebut Donald Trump Merusak Tatanan Niaga Global
- Marwan Minta Pemerintah Antisipasi Dampak Tarif Impor Baru yang Diumumkan Trump
- Amerika Bakal Persulit Pemohon Visa yang Suka Menghina Israel di Medsos
- Donald Trump Makin Berniat Mencaplok Greenland
- Dunia Hari Ini: Amerika Serikat Krisis Telur, Sampai Terpaksa Impor