Armenia dan Azerbaijan di Ambang Bunuh-bunuhan, Darurat Militer!

Dua negara telah lama bentrok memperebutkan wilayah Nagorno-Karabakh, yang melepaskan diri dari Azerbaijan setelah Uni Soviet bubar.
Keduanya telah menyepakati gencatan senjata sejak 1994, tetapi Azerbaijan dan Armenia kerap saling tuding tentara masing-masing negara meluncurkan serangan di Nagorno-Karabakh serta di sepanjang perbatasan dua negara.
Konflik di dua negara itu membuat banyak negara Barat dan negara lain di kawasan khawatir karena Kaukasus Selatan, wilayah Armenia dan Azerbaijan, merupakan lokasi pipa minyak dan gas untuk pasar dunia.
Kementerian Pertahanan Armenia mengatakan pasukan militer telah menghancurkan tiga tank dan menembak jatuh dua helikopter serta dua pesawat tanpa awak milik Azerbaijan sebagai balasan terhadap serangan pada warga sipil, termasuk warga di ibu kota Nagorno-Karabakh, Stepanakert.
"Aksi kami proporsional dan petinggi militer-politik di Azerbaijan harus bertanggung jawab penuh atas situasi ini," kata kementerian, yang disampaikan kembali oleh Kementerian Luar Negeri Armenia.
Sementara itu, PM Armenia Pashiyan, lewat unggahannya di Twitter, mengatakan, "Kita harus tetap kuat bersama para tentara untuk melindungi tanah air dari agresi Azerbaijan".
Namun, Azerbaijan menyangkal pernyataan pihak Armenia. Pemerintah di Baku mengatakan pihaknya memiliki "banyak keuntungan untuk menghadapi musuh di garis depan". Azerbaijan balik menuduh tentara Armenia meluncurkan "serangan yang disengaja" di sepanjang perbatasan.
"Kami membela wilayah negara kami, karena ini hak kami," kata Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev saat menyampaikan pidato kepada publik.
Armenia dan Azerbaijan di ambang perang terbuka terkait sengketa wilayah Nagorno-Karabakh
- Geledah Kantor Presiden, Polisi Korsel Cari Bukti Pengkhianatan
- Otak di Balik Darurat Militer, Eks Menhan Korsel Terancam Berurusan dengan Hukum
- Kemlu RI Pastikan WNI di Korsel Tidak Perlu Dievakuasi
- Dunia Hari Ini: Korea Selatan Membatalkan Darurat Militer
- Umumkan Darurat Militer, Presiden Korsel Langsung Ditinggal Para Penasihat
- Darurat Militer Gagal, Presiden Korsel Hadapi Pembalasan Oposisi