AS Turun Tangan, Pakistan Akhirnya Mengalah

jpnn.com, ISLAMABAD - Pakistan terus mengalah. Sewaktu India minta pilot Abhinandan Varthaman dilepaskan tanpa syarat, Perdana Menteri Imran Khan menurut. Ketika India minta janji Pakistan menumpas militan anti-India, Khan juga mengangguk.
Menteri Informasi Pakistan Fawad Chaudry menegaskan, pemerintah sudah memutuskan untuk memulai perang terhadap terorisme. Menurut dia, janji kali ini bakal dibarengi komitmen penuh dan strategi komprehensif.
''Strategi kami berbeda-beda untuk tiap kelompok (militan). Tapi, tujuan akhirnya pasti demilitarisasi,'' tegasnya, Selasa (4/3) sebagaimana dilansir Dawn.
BACA JUGA: India dan Pakistan Sudah Berkonflik dari Lahir, Begini Sejarahnya
Dalam kesempatan itu, dia menegaskan bahwa pemerintah Pakistan sama sekali tak terlibat insiden Pulwama. Namun, dia merasa pemerintah perlu menegaskan kembali komitmen di tengah tekanan internasional. Tuntutan itu keluar dari beberapa negara Barat, termasuk AS dan Inggris.
Selama ini, janji untuk menumpas kelompok anti-India di Pakistan belum terbukti. Menurut Reuters, beberapa pentolan JeM dan organisasi garis keras lainnya masih bebas berkeliaran di Pakistan. ''Saya tegaskan, hasil operasi kami segera muncul,'' tegasnya.
Meski belum terbukti, janji dari kabinet Imran Khan jelas membuat AS senang. Sebab, konflik tersebut membuat salah satu proyek besar mereka hampir berantakan. Proyek itu adalah perundingan perdamaian Afghanistan dengan kelompok Taliban.
Pemerintah Pakistan maupun Taliban sudah angkat bicara. Mereka minta AS segera menekan India dalam konflik Kashmir. Jika tidak, pembicaraan bakal dihentikan.
Selama ini Pakistan terkesan angin-anginan memerangi kelompok teroris di wilayahnya. Tekanan dari India dan AS mengubah semua itu
- Prabowo Kirim Tim Lobi ke AS untuk Negosiasi Tarif Impor Donald Trump
- Ekonom Ungkap Komoditas yang Bakal Terdampak Kebijakan Tarif Trump
- Tornado Menyapu Amerika, 55 Juta Jiwa Terancam
- Trump Berulah, Macron Desak Perusahaan Prancis Setop Berinvestasi di Amerika
- Renovasi Rumah
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen