Australia Tidak Siap Hadapi Perang Siber

Australia tidak siap menghadapi ancaman perang siber jika dibandingkan dengan negara seperti China dan Amerika Serikat. Militer negara ini juga tidak melakukan persiapan memadai menghadapi serangan siber pada sistem persenjataan mereka.
Demikian terungkap dalam laporan yang disampaikan pusat penelitian Australian Centre for Cyber Security (ACCS) pekan ini.
Laporan yang disampaikan Professor Greg Austin itu mengungkapkan bahwa respon Australia terhadap ancaman yang muncul dari dunia siber "sangat lamban dan terfragmentasi".
Disebutkan, Australia bergantung pada Amerika Serikat dalam kebutuhan pertahanannya selama 60 tahun terakhir. Namun hal ini tidak akan banyak membantu dalam perang siber.
Padahal, menurut laporan ACCS, Australia sebenarnya telah bergabung dalam aliansi intelijen negara Five Eyes.
"Ketergantungan negara dengan kekuatan menengah seperti Australia terhadap AS tidak akan banyak dampaknya dalam dunia siber," kata Prof Austin.
Dikatakan, berbeda dengan masa depan pertahanan laut, udara dan darat yang banyak diperdebatkan, kebutuhan keamanan siber Australia tidak banyak mendapat perhatian.
Laporan itu menyatakan Australia bahkan tidak siap jika mengalami serangan siber untuk skala menengah saat ini.
Australia tidak siap menghadapi ancaman perang siber jika dibandingkan dengan negara seperti China dan Amerika Serikat. Militer negara ini juga tidak
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana
- Kabar Australia: Pihak Oposisi Ingin Mengurangi Jumlah Migrasi