Bahlil, Kawulo, Santri, dan Cita-Cita Republik

Oleh: M Shoim Haris Pendiri ADCENT (Advisory Center For Development)

Bahlil, Kawulo, Santri, dan Cita-Cita Republik
Foto: Pendiri ADCENT (Advisory Center For Development) M Shoim Haris

Republik ini didirikan dengan cita-cita yang dirangkum dari berbagai sumber terbaik yang dimiliki bangsa ini, berupa nilai dan budaya adi luhung, nilai universal agama, juga saripati falsafah warisan umat manusia. Maka termaktublah sebagai pembukaan dalam UUD 1945, yang di dalamnya termaktub pula Pancasila.

Jika kita telaah lebih dalam naskah pembukaan UUD 1945 yang di dalamnya Pancasila merupakan falsafah bernegara paling modern yang dilahirkan umat manusia. Bagaimana bangsa ini memandang dirinya dihadapan Yang Maha Esa, dihadapan bangsa lain, kontribusi international, dan pastinya adalah tugas dan cita-citanya sendiri sebagai negara Republik berdasarkan nilai religiusitas. Penulis menilai naskah ini merupakan warisan dunia yang brilian dari abad 20, dan sangat relevan jauh ke depan di era teknologi super canggih.

Para pendiri bangsa ini; terdiri dari para intelektual, ulama, dan kaum pergerakan mempunyai kecanggihan dan kearifan dalam meramu, membongkar dan mengisih kembali dengan nilai universal. Para pendiri merumuskan sebuah republik yang berketuhanan, berkemanusiaan, bersatu, terbuka, dan bertujuan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

Sebagai republik, para pendiri bangsa menginginkan negara ini dimiliki, dikelol, dan berorientasi untuk melindungi, mencerdaskan, dan mewujudkan keadilan dan kesejahteraan rakyatnya. Relasi antar warga negara adalah equel, sejajar, setara di depan negara. Kawulo adalah definisi untuk warga yang berkedudukan rendah di hadapan 'Gusti'.

Feodalisme diruntuhkan yang mengkastakan warga di posisi rendah.

Republik ini mengangkat warga diposisi tinggi sebagai rakyat, bukan kawulo. Konsep rakyat adalah konsep tanggungjawab dalam sebuah kepemimpinan. Negara dengan pemimpinnya bertanggungjawab sepenuhnya atas apa yang yang dipimpinnya.

Konsep kesetaraan ini menjadi identitas generasi 45, bahkan dalam wujud sebutan keseharian; Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir, Bung Tomo. Sedikit lucu, Sultan HB IX pun dipanggil Syahrir, "Bung Sultan". Semangat egalitarisme ini adalah api bagi tumbuhnya distribusi justice dan welfare. Sistem sosial yang terbuka memungkinkan partisipasi yang meluas warga bangsa. Kultur terbuka pun ada di Golkar, dengan penyebutan, " Bung Dharmono, Bung Harmoko, Bung Akbar...".

Bahlil dalam banyak kesempatan, termasuk memberikan semangat pada santri saat Safari Ramadan, menceritakan dirinya yang serba terbatas di masa lalu bisa sampai di titik saat ini; dipercaya presiden menjadi bagian kabinet Merah Putih, menjadi Ketum Partai Golkar.

Ramadan bagi muslim adalah laboratorium yang membenihkan embrio kebaikan dengan habit ahsan, yang akan ditumbuhkan dan dibuahkan di bulan setelahnya.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News