Bakteri Penyebab Infeksi Alat Kelamin Jadi Kebal Antibiotik

Sejumlah pakar kesehatan di Australia khawatir infeksi menular dari hubungan seksual yang jarang diketahui menjadi kebal terhadap antibiotik. Tetapi lewat tes sederhana bisa mengetahui pengobatan yang efektif.
Bakteri Penyebab Infeksi Alat Kelamin
- Bakteri penyebab infeksi alat kelamin dengan sebutan MG bisa menjadi 'superbug', istilah bakteri yang rentan pada antibiotik
- Tes baru bisa membantu para dokter untuk menentukan pengobatan dan perawatan terbaik
- Pakar kesehatan ingin akan infeksi dilaporkan pada pihak kesehatan
Jenis bakteri mycoplasma genitalium, atau MG, bisa menyebabkan ketidaksuburan dan kelahiran prematur pada wanita hamil.
Profesor Suzanne Garland dari Royal Women's Hospital di Melbourne mengatakan mereka yang terinfeksi MG sering tidak menunjukkan gejala.
"Laki-laki dan perempuan muda yang aktif secara seksual dengan pasangan yang berbeda-beda beresiko," katanya.
Beberapa pria tidak memiliki gejala tapi bisa merasakan sakit saat buang air kecil.
Perempuan mungkin juga tidak memiliki gejala tapi sejumlah penderita melaporkan rasa sakit saat berhubungan seks atau saat buang air kecil.
Pakar kesehatan mengatakan kekhawatiran besar soal MG adalah menjadi kebal terhadap antibiotik.
"Pada dasarnya menjadi superbug [istilah bakteri yang rentan pada antibiotik], dengan penelitian menunjukkan setidaknya 50 persen orang yang terpapar MG menjadi kebal terhadap obat, sehingga membatasi pilihan perawatan mereka," jelas Profesor Garland.
- Dunia Hari Ini: Vatikan Mengatakan Paus Fransiskus Masih dalam kondisi kritis
- Dunia Hari Ini: Ledakan Bus di Israel Diduga 'Serangan Teror'
- Pelajar di Luar Negeri Ikut Dukung Aksi 'Indonesia Gelap'
- Dunia Hari Ini: Presiden Prabowo Subianto Lantik 481 Kepala Daerah
- Dunia Hari Ini: Bus Terjun ke Jurang di Bolivia, 30 Orang Tewas
- Omon-Omon Pemangkasan Anggaran: Efisiensi yang Kontradiktif?