Balik ke Rumah, Keluarga Korban Salah Tembak Dijaga Ketat Bak Orang Penting
Berbelanja Pun selalu Ada Polwan yang Mendampingi
Sabtu, 21 Mei 2011 – 08:08 WIB

Waliyem, istri Nur Iman, di rumahnya yang sangat sederhana di Kampung Dukuh, Desa Sanggrahan, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo. Jawa Tengah. Foto : Radar Solo/JPNN
Sorenya, Radar Solo (JPNN Group) kembali ke rumah itu. Tetap saja ada polisi yang menjaga. Tapi, kali ini yang menjaga adalah dua polwan dan seorang polisi. Mereka tak mengenakan seragam dinas. Rizky, anak sulung Nur Iman, saat itu sempat keluar rumah. Tapi, oleh salah seorang polwan, dia langsung dibawa masuk begitu tahu ada Radar Solo yang ingin mendekat.
Kemarin Radar Solo kembali mendatangi rumah Nur. Tampak dua polwan masih menjaga rumah tersebut. Saat itu dua anak Waliyem sedang bermain dengan teman-teman sebayanya di teras rumah. Tak jauh dari tempat itu, Waliyem sedang bersantai. Perempuan 37 tahun tersebut sedang duduk didampingi dua polwan yang mengenakan pakaian preman.
Jika sebelumnya sulit diwawancarai, kemarin Waliyem bisa diajak ngobrol. Waliyem mengatakan, dia bersama keluarga lainnya sudah mulai tenang. Tetapi, dia masih belum beraktivitas seperti biasa. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. "Saya dan keluarga lainnya belum bekerja seperti biasanya. Anak saya juga belum sekolah. Mungkin, anak saya Rizki Senin besok mulai masuk sekolah," kata Waliyem kepada Radar Solo dengan suara rendah kemarin (20/5).
Waliyem mengakui, dia dan keluarganya mendapatkan pendampingan polisi sejak pertama kembali ke rumah. Meski dijaga ketat, dia tak merasa terganggu. Justru dia dan keluarganya merasa nyaman. Sebab, para polisi yang berjaga di rumahnya itu juga kerap dijadikan teman untuk berbincang-bincang. "Saya kan orang nggak tahu apa-apa. Jadi, dengan didampingi seperti ini, saya merasa lebih tenang. Ada yang bisa ngajarin saya," tuturnya.
Lima hari lamanya istri dan dua anak Nur Iman (korban tewas salah sasaran dalam penyergapan teroris di Sukoharjo, Sabtu pekan lalu menghilang. Rabu
BERITA TERKAIT
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu
- Kontroversi Rencana Penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer, Apresiasi Terhalang Stigma Kiri
- Kisah Jenderal Gondrong ke Iran demi Berantas Narkoba, Dijaga Ketat di Depan Kamar Hotel
- Petani Muda Al Fansuri Menuangkan Keresahan Melalui Buku Berjudul Agrikultur Progresif
- Setahun Badan Karantina Indonesia, Bayi yang Bertekad Meraksasa demi Menjaga Pertahanan Negara