Bangsa Pelupa dan Pemaaf, Sebuah Refleksi Tentang Karakter Kolektif Indonesia

Oleh: Drajat Wibowo, pemerhati sosial dan budaya, tinggal di Bali

Bangsa Pelupa dan Pemaaf, Sebuah Refleksi Tentang Karakter Kolektif Indonesia
Bendera Merah Putih. Ilustrasi. Foto: Antara

jpnn.com - Sejarah bangsa ini penuh dengan peristiwa-peristiwa besar. Kita pernah menyaksikan jatuhnya rezim, bangkitnya kekuatan baru, skandal besar yang menghebohkan, hingga konflik sosial yang menguras emosi.

Namun, ada satu hal yang menarik: kita selalu lupa.

Bukan berarti tidak ada kemarahan. Setiap kali ketidakadilan terjadi baik itu korupsi, pelanggaran hak asasi, bahkan hingga perlindungan kekuasaan- selalu ada gelombang protes.

Meski demikian, tidak butuh waktu lama bagi kita untuk kembali seperti biasa. Isu yang dahulu memicu kemarahan nasional tiba-tiba menghilang digantikan oleh berita lain atau mungkin hanya melambat karena rutinitas sehari-hari.

Banyak yang bertanya, mengapa bangsa ini begitu mudah dilupakan? Mengapa kasus-kasus besar yang menggemparkan negeri ini tidak pernah benar-benar diungkapkan?

Apakah ini memang sifat bawaan kita atau ada sesuatu yang lebih dalam yang membentuk karakter ini?

Mari kita coba menggali lebih jauh. Ini bukan sekadar fenomena sosial, melainkan sesuatu yang telah terbentuk selama berabad-abad.

Kita akan melihat bagaimana sejarah, psikologi, budaya, hingga lingkungan kita ikut serta dalam membentuk pola ini, dan apakah ada cara untuk keluar dari siklus ini.

Sejarah bangsa ini penuh dengan peristiwa-peristiwa besar. Kita pernah menyaksikan jatuhnya rezim, bangkitnya kekuatan baru, skandal besar yang menghebohkan.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News