Bangsa Pelupa dan Pemaaf, Sebuah Refleksi Tentang Karakter Kolektif Indonesia

Oleh: Drajat Wibowo, pemerhati sosial dan budaya, tinggal di Bali

Bangsa Pelupa dan Pemaaf, Sebuah Refleksi Tentang Karakter Kolektif Indonesia
Bendera Merah Putih. Ilustrasi. Foto: Antara

Orde lama berakhir, tetapi banyak tokoh yang dahulu berkuasa tetap memiliki pengaruh. Orde Baru tumbang, tetapi banyak elite lama tetap bertahan dalam sistem baru. Seakan-akan kita hanya mengganti aktor tanpa benar-benar menyelesaikan masalah yang ada.

Inilah pola yang terus berulang. Setiap kali ada ketidakadilan, masyarakat bereaksi.

Namun, begitu ada sedikit perubahan -baik itu janji, pencitraan pemimpin baru, atau sekadar waktu berlalu- kita kembali seperti biasa. Bukan karena kita tidak peduli, melainkan karena kita terbiasa menerima keadaan tanpa bertanya lebih jauh.

Mengapa kita terus seperti ini? Jawabannya bukan hanya soal sejarah, melainkan juga bagaimana otak kita bekerja.

Para ahli psikologi menyebut fenomena ini sebagai adaptive forgetting (Anderson & Hulbert, 2021). Ketika seseorang menghadapi sesuatu yang terlalu menyakitkan atau bersantai mental, otaknya secara otomatis berusaha melupakannya.

Ini adalah mekanisme pertahanan diri agar kita tidak terus-menerus hidup dalam trauma. Bayangkan jika setiap orang di negeri ini mengingat semua ketidakadilan yang terjadi tanpa pernah melupakannya, itu akan menjadi beban mental yang sangat berat.

Jadi, tanpa sadar kita memilih untuk mengalihkan perhatian, mencari hiburan lain, atau meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Ada juga yang disebut learned helplessness (Seligman, 1975). Ini terjadi ketika seseorang merasa bahwa tidak peduli sekeras apa pun mereka berusaha, tidak akan ada perubahan.

Sejarah bangsa ini penuh dengan peristiwa-peristiwa besar. Kita pernah menyaksikan jatuhnya rezim, bangkitnya kekuatan baru, skandal besar yang menghebohkan.

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News