Bangsa Pelupa dan Pemaaf, Sebuah Refleksi Tentang Karakter Kolektif Indonesia

Oleh: Drajat Wibowo, pemerhati sosial dan budaya, tinggal di Bali

Bangsa Pelupa dan Pemaaf, Sebuah Refleksi Tentang Karakter Kolektif Indonesia
Bendera Merah Putih. Ilustrasi. Foto: Antara

Sementara itu di Nusantara, kita bisa bertahan dengan lebih mudah sehingga cenderung menghindari konflik daripada memperjuangkan perubahan.

Kedua, budaya lisan yang kuat. Di banyak negara maju, sejarah ditulis dengan jelas dan disimpan dalam dokumentasi yang dapat diakses kapan saja.

Di Indonesia, banyak sejarah hanya diwariskan secara lisan sehingga lebih mudah berubah atau bahkan hilang seiring berjalannya waktu.

Ketiga, pengaruh agama dan spiritualitas. Ajaran agama kita banyak tekanan pada konsep pemaafan dan kesabaran. Ini bukan hal buruk karena justru menjadi kekuatan dalam banyak aspek kehidupan.

Namun, ketika itu diterapkan pada ketidakadilan struktural, sering kali yang terjadi ialah masyarakat memilih untuk memaafkan tanpa meminta pertanggungjawaban.

Pertanyaannya: mau sampai kapan? Apakah bangsa ini memang ditakdirkan untuk selalu memaafkan dan memaafkan?

Tidak harus begitu, tetapi untuk keluar dari siklus ini, kita perlu sadar bahwa hal itu bukan sekadar kebiasaan, melainkan sesuatu yang terbentuk oleh sejarah, psikologi, budaya, dan sistem yang berjalan selama berabad-abad.

Jika kita terus melupakan tanpa belajar, cepat atau lambat sejarah akan terus berulang—dan kita akan terus menjadi bangsa yang hanya bisa menerima tanpa benar-benar berubah.(***)

Sejarah bangsa ini penuh dengan peristiwa-peristiwa besar. Kita pernah menyaksikan jatuhnya rezim, bangkitnya kekuatan baru, skandal besar yang menghebohkan.


Redaktur & Reporter : Friederich Batari

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News