Batu Bara Topang Ekspor

Persentase kenaikan terbesar ekspor migas Desember 2018 dibandingkan dengan November 2018 terjadi ke Singapura sebesar 110,145 persen.
Sementara itu, persentase penurunan terbesar terjadi ke Jepang sebesar 21,04 persen, yaitu dari USD 129,62 juta menjadi sebesar USD 102,35 juta.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kaltim Slamet Brotosiswoyo mengatakan, ekspor migas turun karena harga minyak dunia jelang akhir tahun lalu anjlok.
“Kondisi minyak dunia yang awalnya terus menguat, tiba-tiba memasuki akhir tahun merosot. Bahkan di angka terendah. Hal itu membuat ekspor migas dan impor kurang bergeliat,” tutur Slamet, Rabu (6/2).
Untungnya, sambung dia, batu bara khususnya masih stabil. Tidak heran dari sektor non-migas masih menunjukkan tren bagus.
Menurut Slamet, yang perlu diperhatikan adalah kebijakan menekan impor ternyata belum terbukti.
Angka impor masih tumbuh cukup tinggi. Sementara itu, ekspor meski tumbuh namun tidak setinggi impor.
“Padahal tahun lalu momentum ekspor itu ada. Didorong dengan penguatan dolar Amerika Serikat kepada rupiah. Barang yang dijual tentu nilainya bertambah. Namun, ternyata belum mampu dimanfaatkan dengan baik. Kemudian, adanya direct call belum disentuh para eksportir,” terang Slamet.. (aji/ndu/k15)
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur menunjukkan ekspor barang migas provinsi itu pada periode Januari-Desember 2018 mencapai USD 3,32 miliar atau turun 21,81 persen.
Redaktur & Reporter : Tim Redaksi
- ASPEBINDO Usulkan Perbaikan Kebijakan Penetapan Harga Batu Bara Acuan Dalam Transaksi Ekspor
- ExxonMobil Jadi Mitra Strategis Industri Pertambangan
- Maratua Run 2025: Perkenalkan Surga Tersembunyi Kaltim Lewat Olahraga
- Monev KIP 2024: Pemprov Kaltim Raih Predikat Informatif 5 Kali Berturut-turut
- Haris Azhar Minta Perusahaan Tambang Batu Bara yang Serobot Lahan Patuhi Hukum
- 102 Formasi PPPK 2024 di Daerah Ini Belum Terisi