Belajar dari Rumah Memperlihatkan Kesenjangan Pendidikan di Indonesia

"Adik setiap hari ada tugas, nanti hasilnya dikirim melalui Gmail. Tapi Kakak tugasnya [dari sekolah] tidak menentu, dalam satu minggu mungkin hanya ada 2 atau 3 tugas," tambahnya.
Sekitar 4.000 kilometer dari kota Ambon, Vincent, seorang murid kelas 5 Sekolah Dasar di Desa Semudun, Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalimantan Barat mengaku lebih suka belajar di sekolah.
"Saya lebih suka belajar [di sekolah] seperti biasa karena di rumah bosan tidak ada teman," ujarnya kepada Natasya Salim.
Sejak akhir Maret lalu, Vincent dan adiknya, Wilson, yang duduk di kelas 3, belajar di rumah dengan menyaksikan tayangan TVRI, sesuai instruksi dari sekolah mereka yaitu SD Negeri 19 Semudun.

Melalui program TVRI bertajuk "Belajar Dari Rumah", yang diluncurkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), murid-murid seperti Vincent dan Wilson bisa mendengarkan penjelasan tentang suatu topik.
"Dari awal tidak ada [belajar online], soalnya guru anak saya yang besar, yang kelas 5 SD, tidak ada hape kayak kita," kata Siau Tan, ibu dari Vincent dan Wilson.
Bukti 'ada kesenjangan pendidikan'
Itulah yang dialami sebagian anak-anak Indonesia, khususnya yang berada di luar Pulau Jawa, saat sedang sekolah dari rumah di tengah pandemi virus corona.
Belajar dari rumah telah menjadi bagian dari new normal warga Indonesia dalam menjalani kehidupan di tengah pandemi virus corona
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana
- Algonova Bantu Asah Keterampilan Anak-anak Sejak Dini
- Kabar Australia: Pihak Oposisi Ingin Mengurangi Jumlah Migrasi
- Dunia Hari Ini: Unjuk Rasa di Turki Berlanjut, Jurnalis BBC Dideportasi