Berani, Mantan PM Pakistan Pulang untuk Dipenjara

jpnn.com, LAHORE - Pakistan tegang saat mantan Perdana Menteri (PM) Nawaz Sharif pulang. Sekitar sepekan setelah pengadilan menjatuhkan vonis sepuluh tahun penjara kepada tokoh 68 tahun itu, dia memutuskan kembali ke kampung halaman.
Dia mengaku tak takut menghadapi vonis yang sarat muatan politik tersebut. ”Saya pulang. Saya tidak takut hukuman,” tegas Sharif kepada Reuters, Jumat (13/7).
Dia tiba di Bandara Allama Iqbal bersama sang putri, Maryam. Sama dengan Sharif, putrinya pulang untuk menjalani hukuman. Sejak April, mereka berada di London, Inggris, untuk merawat Kulsoom, istri Nawaz, yang sakit.
Saat menantikan pesawat lanjutan ke Pakistan di Bandara Abu Dhabi, Sharif mengkritik perlakuan pemerintah terhadap rakyat. Khususnya para pendukungnya.
Dia memprotes kebijakan untuk sinyal telepon genggam dan memutus koneksi internet. Konon, semua itu dilakukan demi keamanan.
Menurut Sharif, pemerintahan yang baru terbentuk setelah pemilu Juni tidak semestinya melanjutkan aturan darurat soal keamanan. Apalagi, pemilu sudah berlalu.
Naveed Shah, pejabat Kepolisian Lahore, mengatakan bahwa pihaknya tidak menerapkan aturan darurat tersebut. Tidak ada pembatasan mobilitas warga.
Buktinya, para pendukung Sharif tetap bisa berkumpul di pusat kota untuk berunjuk rasa kemarin. ”Tapi, aturan itu bisa saja berubah jika para demonstran menjadi tidak terkendali,” ungkapnya.
Mantan Perdana Menteri (PM) Pakistan Nawaz Sharif pulang, meski sudah jelas hukuman penjara sepuluh tahun menantinya
- Presiden Prabowo Akan Bangun Penjara di Pulau Terpencil untuk Para Koruptor
- Dunia Hari Ini: Puluhan Tewas Setelah Kereta di Pakistan Dibajak
- Guru Besar Unhas Marthen Napang Dihukum Penjara 1 Tahun Karena Terbukti Lakukan Tindak Pidana Penipuan
- Dunia Hari Ini: Bom Bunuh Diri di Pakistan Menewaskan 18 Orang
- 4 Kali Terjerat Kasus Narkoba, Fariz RM Terancam 20 Tahun Penjara
- Kasus Korupsi Pengadaan APD Covid-19, Eks Sekretaris Dinkes Sumut Dituntut 9 Tahun Penjara