Bersepeda Melintasi Andalusia dan Mendaki Gunung Tertinggi Afrika Utara (2-Habis)
Senin, 16 Agustus 2010 – 08:08 WIB

Paimo Hertadimas.
Saya diam tidak bereaksi. Mereka pun pergi, tapi kemudian datang lagi dari arah lain. Diam-diam saya bergerak mendahului untuk memberikan kejutan sehingga mereka berlari sambil membunyikan terompet yang sedianya digunakan untuk menganggu. Kejadian seperti itu bagian romantisme petualangan yang sering saya alami.
Tantangan lain yang saya hadapi adalah panasnya suhu dan panjangnya siang si Eropa saat ini. Matahari baru terbenam sekitar pukul 21.30 sehingga waktu istirahat sangat kurang. Hal itu mengakibatkan saya sangat lambat bergerak. Kalau sebelumnya saya menargetkan sehari harus bisa mengayuh 100 kilometer atau lebih, kenyataannya sehari saya hanya mampu menempuh 80?90 kilometer. Hanya beberapa hari saya mampu melakukan sesuai target.
Saya menyebut perjalanan kali ini sebagai Trans-Andalucia Cycling Trip karena perjalanan ini banyak melewati Andalusia, wilayah otonomi khusus di bagian selatan Spanyol yang beribu kota Sevilla. Dari sana saya melanjutkan perjalanan ke wilayah Maroko yang di masa lalu "selama delapan abad" pernah terhubung di bawah pemerintahan kekhalifahan Islam.
Setelah sampai di kota Sevilla dan rute keseluruhan wilayah Andalusia, saya menyeberangi Selat Gibraltar (Jabal Al Tarik) di Laut Mediterania yang memisahkan Spanyol dan Maroko (Afrika). Saya naik feri dari Algeciras (Spanyol) ke Ceuta di ujung Benua Afrika yang juga masih di bawah pemerintahan Spanyol.
Komunitas pencinta sepeda yang terhubung di dunia maya memudahkan para pesepeda jauh Indonesia saat berkelana ke luar negeri. Namun, yang tak kalah
BERITA TERKAIT
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu
- Kontroversi Rencana Penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer, Apresiasi Terhalang Stigma Kiri
- Kisah Jenderal Gondrong ke Iran demi Berantas Narkoba, Dijaga Ketat di Depan Kamar Hotel
- Petani Muda Al Fansuri Menuangkan Keresahan Melalui Buku Berjudul Agrikultur Progresif
- Setahun Badan Karantina Indonesia, Bayi yang Bertekad Meraksasa demi Menjaga Pertahanan Negara