Besarkan Anak Difabel di Australia, Orang Tua Asal Indonesia Saling Membantu Lewat Grup WhatsApp

Sejumlah orang tua asal Indonesia mengaku jika membesarkan anak-anak mereka di Australia memiliki tantangan tersendiri. Lalu ada tantangan tambahan jika anak-anak mereka difabel.
Namun, mereka tidak hanya menceritakan perjuangan yang harus dilalui, tetapi juga sukacita yang dirasakan.
Oliver Prawiro Kimpton lahir dengan kondisi normal di Melbourne, Australia pada tahun 2003.
Namun di usia delapan bulan Oliver mulai menunjukkan gejala keterlambatan, seperti yang diceritakan Kathy Kimpton, ibunya.
Kathy mengatakan Oliver sempat dibawa kembali ke Indonesia dan dokter spesialisasi neurologi menyarankannya untuk melakukan serangkaian tes, seperti MRI, CT-scan dan lainnya.
"Lalu ditemukan kalau Oliver ternyata mempunyai brain damage atau celebral palsy yang kebanyakan berada di sebelah kiri otaknya, sehingga bagian sebelah kanan tubuhnya lumpuh," ujar Kathy kepada ABC Indonesia.
Tapi pada usianya yang ke-19 tahun, Oliver mulai mengalami banyak kemajuan lewat terapi. Kini, ia sudah bisa berjalan hingga naik sepeda dan skuter khusus, meski tetap perlu diawasi.
"Syukurlah, melalui terapi dan usaha kami untuk mengenalnya lebih dalam, ia sekarang lebih tenang dan mulai suka berinteraksi dengan orang lain."
Sejumlah orang tua asal Indonesia mengaku jika membesarkan anak-anak mereka di Australia tidaklah mudah karena perbedaan budaya
- Paus Fransiskus, Pemimpin Gereja Katolik yang Reformis, Meninggal Dunia pada Usia 88 tahun
- Dunia Hari Ini: PM Australia Sebut Rencana Militer Rusia di Indonesia sebagai 'Propaganda'
- WhatsApp Rilis Fitur Baru Untuk Paket Stiker
- Sulitnya Beli Rumah Bagi Anak Muda Jadi Salah Satu Topik di Pemilu Australia
- Rusia Menanggapi Klaim Upayanya Mengakses Pangkalan Militer di Indonesia
- Dunia Hari Ini: Siap Hadapi Perang, Warga Eropa Diminta Sisihkan Bekal untuk 72 Jam