Biadab! Mengapa Ini Harus Terjadi? Sama-sama Suporter dari Jawa Timur

Makanya, mereka tetap dan terus mencari ‘alat bukti’ yang menunjukkan bahwa rombongan naas ini benar-benar Aremania. ‘’Bonek tidak percaya, mereka rombongan wisata. Akhirnya menggeledah dan melakukan sweeping. Semua dompet, baju, hp disita. Begitu didapatkan ada identitas Aremania, langsung melakukan kekerasan. Baik terhadap barang atau terhadap orang,’’ jelas Pitoyo sembari tangannya digerakkan menirukan aksi kekerasan bonek terhadap bus dan Aremania.
Melihat sebagian rekannya, termasuk Eko, dihajar bonek, Aremania lainnya berusaha menyelamatkan diri. Ada yang lari dan sembunyi di kamar-kamar pegawai SPBU. Ada juga yang sampai lari ke kampung terdekat. Tujuannya jangan sampai tertangkap bonek yang sudah kalap.
Mereka, Aremania, sadar. Jika membela Eko akan sangat fatal akibatnya. Selain kalah jumlah, 500 dibanding 34, nyawa mereka pun bisa terancam.
‘’Pasca kejadian itu, kami membutuhkan waktu lama untuk mengumpulkan rekan-rekan Aremania. Karena mereka ada yang lari masuk kampung,’’ ujarnya.
Dampak keberingasan bonek, kemudian terlihat sekitar 15 sampai 30 menit kemudian. Tidak hanya badan bus yang hancur. Tetapi tubuh Eko pun juga ikut hancur. Sebanyak 10 luka serius yang dialami Eko menyebabkan darah terus mengalir dari tubuhnya. Kondisi ini pula yang menyebabkan Eko meregang nyawa di tempat kejadian.
‘’Dari hasil otopsi, ada 10 luka dialami korban. Wajah Eko hancur dihantam cor-coran yang kita temukan di sebelah korban,’’ ungkap Pitoyo.
Apakah bongkahan cor-coran batu itu sudah disiapkan? ‘’Tidak. Mereka mungkin menemukan disekitar lokasi kejadian. Bentuknya kayak bongkahan pondasi, beratnya sekitar 10 kg,’’ ucapnya.
Selain itu, di tubuh Eko juga didapatkan luka tusuk di dada sebelah kiri. ‘’Tembus. Luka tusuk itu tembus jantung. Selain itu ada luka-luka lain di sekujur tubuhnya,’’ kata Pitoyo dengan menyebut dari 30 tersangka, hanya 17 terbukti melakukan pengeroyokan di SPBU Jatisomo.
KEBRINGASAN suporter Bonek terhadap Aremania di Sragen,19 Desember 2015, tampaknya akan menjadi catatan hitam di lembaran sejarah persepakbolaan
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu
- Kontroversi Rencana Penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer, Apresiasi Terhalang Stigma Kiri
- Kisah Jenderal Gondrong ke Iran demi Berantas Narkoba, Dijaga Ketat di Depan Kamar Hotel
- Petani Muda Al Fansuri Menuangkan Keresahan Melalui Buku Berjudul Agrikultur Progresif
- Setahun Badan Karantina Indonesia, Bayi yang Bertekad Meraksasa demi Menjaga Pertahanan Negara