Budak
Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Belanda hanya mengakui perbudakan di Suriname, Antalia, dan Curacao yang nota bene wilayah Barat.
Sementara penjajahan di Indonesia hanya disebut sepintas tanpa ada permintaan maaf khusus.
Jejak perbudakan Belanda di Indonesia sangat jelas dan masih teramat banyak bukti yang bisa dikumpulkan.
Sejarawan dan budayawan Betawi Ali Shahab membuat kronikel praktik penjualan budak di Hindia Belanda dalam buku ‘’ Betawi Tempo Doeloe; Robin Hood Betawi’’.
Pada 1800-an, Jan Pieterzoon Coen, yang ketika itu menjadi gubernur jenderal Belanda, membuka sentra sentra penjualan budak di Batavia, terutama para budak yang berasal dari Manggarai di Nusa Tenggara Timur.
Lokasi pasar budak itu sekarang dinamakan sebagai Kampung Manggarai.
Sejarah perbudakan di Batavia diawali saat Coen menaklukkan Jayakarta pada 1619 dan mengganti namanya menjadi Batavia.
Ketika itu kondisi kota nyaris tanpa penduduk, karena orang-orang pribumi Jawa dan Sunda kabur karena takut dibunuh.
Belanda harus mengakuinya terus terang dan meminta maaf, serta membayar ganti rugi untuk bangsa Indonesia.
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Gempa Myanmar, Indonesia Kirim Bantuan Tahap Tiga
- Erick Thohir Bersama Legenda Belanda Mulai Membicarakan Program Pembinaan Pemain
- IDCI Nilai Pertahanan Siber Seharusnya Jadi Tugas Utama TNI
- PSSI Umumkan Komposisi Pelatih Timnas Indonesia, Kental Aroma Belanda
- Indonesia-Vietnam Eksplorasi Peluang Kerja Sama untuk Pertumbuhan Ekonomi yang Lebih Inklusif