Buku Mewarnai Makin Sering Digunakan Sebagai Metode Atasi Stres

"Mereka tak tahu rasanya menjadi tenang, karena mereka tak pernah merasakannya. Saat ini, mereka terlalu bersemangat oleh segala sesuatu, sehingga mereka tak tahu bagaimana menjadi tenang dan menikmati momen saat itu," jelasnya.
Dituduh sebagai strategi penjualan
Tapi ada kritik terhadap gerakan ‘mindfulness’ ini.
"Itu cenderung memikirkan hal yang kekinian, seperti diiklankan atau dipromosikan sebagai seperti obat untuk banyak hal, dan hampir seperti perbaikan yang cepat," kata Geoff Dawson, seorang psikolog dan guru meditasi Buddha Zen.
Ia mengamati tren aplikasi ‘mindfulness’ dan buku mewarnai dengan penuh tanda tanya.
"Ini tak ada hubungannya dengan menjadi fokus. Saya kira Anda bisa mewarnai mereka dengan fokus atau tidak fokus, tapi saya pikir ini hanyalah strategi penjualan kekinian," ujar Geoff tentang buku populer tersebut.
Ia adalah pendukung metode fokus sebagai pengobatan untuk depresi dan kecemasan, tapi ia mengatakan, agar meditasi memiliki efek jangka panjang, diperlukan praktek selama beberapa bulan dan bahkan bertahun-tahun.
"Ini bukan perbaikan cepat ... bukan sesuatu yang menghasilkan respon cepat," katanya.
Sepanjang tahun ini, buku mewarnai yang dipasarkan sebagai sarana pereda stres dan metode untuk fokus pada sesuatu atau ‘mindfulness’
Redaktur & Reporter : Tim Redaksi
- Dunia Hari Ini: Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol Diturunkan dari Jabatannya
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana