Cak Nun

Oleh: Dahlan Iskan

Cak Nun
Dahlan Iskan. Foto/ilustrasi: Ricardo/JPNN.com

Namanya sering dibahas di kolom komentar Disway: ahli saraf otak, sudah lama bekerja sebagai dokter di Jepang, salah satu ahli yang tergabung di lembaga kesehatan PBB dan sesekali buka praktik di Jakarta.

Ryu juga cucu pendiri NU dan kiai terkemuka pondok Tambakberas, Jombang: KH Wahib Wahab.

Cak Nun juga orang Jombang. Dari desa Sumobito. Banyak pemikir Islam lahir di Jombang: Gus Dur, Nurcholish Madjid, Cak Nun, dan Ryu Hasan sendiri.

Empat-empatnya membawa bendera pemikiran Islam yang sangat modern, bahkan Ryu terlalu modern: sampai membahas proses penciptaan manusia dan dari mana datangnya kehidupan.

Saya bertemu Ryu terakhir di Yogyakarta. Di saat Covid-19. Di belakang panggung pertunjukan teater Butet Kertaradjasa.

Ryu memang lekat dengan Butet. "Seberapa besar peran Dr Ryu dalam penyembuhan Anda?" tanya saya kepada Butet.

"Sampai 25 persen," ujar Butet. Selebihnya datang dari dirinya sendiri dan teman-teman yang membesarkan optimismenya. "Usaha saya sendiri mungkin sepuluh persen," kata Butet.

"Apa yang Anda usahakan?"

Emha Ainun Najib, Cak Nun, penyair, dramawan, musikus dan kiai mbeling itu, sudah beberapa Lebaran tidak sadarkan diri.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News