Cerita di Balik Kemiripan Motif Batik Indonesia dan Suku Aborigin Australia

Sementara itu, menurut Agus, produksi batik yang massal dan semakin jauh dari nilai asli terdahulu sah saja, selama ada ruang dialog antara pelaku batik agar tidak saling merusak.
Apakah batik eksklusif untuk Indonesia?

Pengalaman Agus mengajarkan batik kepada suku Aborigin-Australia, Indian-Amerika, dan orang-orang di Asia dan Afrika membuktikan bahwa batik bisa "tumbuh" di banyak tempat.
"Menurut saya batik itu menjadi asik kalau menjadi mendunia ya, bagaimana itu memperkaya media seni yang bisa memperkaya estetika dunia ini," katanya.
Ia tidak mempermasalahkan adanya klaim dari negara lain soal kepemilikan batik, yang ditetapkan sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi Indonesia di tahun 2009.
Karena menurut pemilik studio batik Brahma Tirta Sari ini, batik yang adalah seni, merupakan bahasa yang universal.
"Memang batik secara historis yang saya dengar kalau kita pertemuan batik, dari mana-mana yang mengaku. Saya tidak begitu penting dari mana."
Menurut Maria, batik tidak akan punah selama masih ada yang menggunakan.
Perjalanan membatik Agus Ismoyo, seniman kelahiran Yogyakarta, menjadi semakin berwarna ketika berkolaborasi dengan suku Aborigin-Australia kurang lebih 30 tahun yang lalu
- Dunia Hari Ini: Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol Diturunkan dari Jabatannya
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Gempa Myanmar, Indonesia Kirim Bantuan Tahap Tiga
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun