Cerita Pekerja Seni Asal Indonesia Bertahan Hidup di Australia saat Corona Menggila

Jumlah seniman ini juga termasuk 600.000 pekerja lainnya di Australia yang juga mengakses bantuan pemerintah.

"Sekarang lagi [mendaftar] banyak grant tapi susah mengharapkan dari sana. Saya mendaftar saja, kalau diterima syukur, kalau tidak juga tidak bisa marah," kata Jayanto kepada Natasya Salim dari ABC News.
Namun, bila dirinya menjadi salah satu yang beruntung dan berhasil menerima 'grant', Jayanto tetap harus menunggu hingga tahun depan untuk dapat melangsungkan pamerannya.
Jayanto yang karya seninya bertema kisah keluarga, diaspora dan migran, sekarang hanya dapat berkarya di rumah sembari berbagi energi positif bagi para pengikutnya di media sosial.
"Saya sedang menyulam simbol double happiness [kebahagiaan ganda] untuk pameran tahun depan di University of Sydney. Semoga tidak dibatalkan," katanya.
"Saya juga sedang mencoba memasukkan karya masa lalu saya ke Instagram dua hari sekali ketika masih happy. Sekarang kan apa-apa sudah sedih, kelabu. Tapi ketika memasukkan karya saya ke Instagram banyak yang menunjukkan harapan indah."
Menjawab panggilan hati di bidang tarik suara
Jika Jayanto menjalani profesi sebagai seniman secara penuh waktu, tidak demikian halnya dengan Nadira Farid.
Tiga seniman asal Indonesia di Australia menceritakan bagaimana mereka harus kehilangan sumber pendapatan karena dampak virus corona
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana
- Kabar Australia: Pihak Oposisi Ingin Mengurangi Jumlah Migrasi