Cerita Pekerja Seni Asal Indonesia Bertahan Hidup di Australia saat Corona Menggila

Pertama kali menjejakkan kaki di Australia pada tahun 1999, Nadira sebenarnya sudah berprofesi sebagai perawat dan berstatus sebagai staf permanen pada tahun 2016.
Tetapi karena panggilan hatinya di bidang tarik suara, perempuan asal Jakarta ini memutuskan menjadi perawat 'casual', supaya bisa lebih serius melakoni 'ensemble' beraliran jazz 'Nadira and Friends' yang dirintisnya sejak tahun 2014.

"Sejak tahun lalu karena aku bertambah sibuk urusan gig [penampilan musik], aku memang selalu mengutamakan gig karena itu passion-ku, singing is my passion, dan aku rencananya ke depan memang ingin mengutamakan [bidang] ini, makanya aku switched status perawatnya menjadi casual" kata Nadira.
"Sok dan berani-beraninya jadi casual, padahal tahu sendiri kan risikonya. Enggak dapet cuti tahunan, enggak ada cuti sakit," tambah Nadira setengah tertawa saat berbicara dengan Hellena Souisa dari ABC News.
Keputusan Nadira sepertinya cukup beralasan karena sejak tahun 2015, ia bisa melakukan rata-rata 35 penampilan musik per tahun.
"Memang enggak sama setiap bulan karena job lebih banyak saat musim panas. Tetapi angkanya rata-rata segitu," ucap Nadira.
Sambil menjalani pilihannya antara menyanyi dan merawat orang sakit, ia membagi hidupnya dengan tinggal di dua kota, yakni Melbourne dan Hobart, di Tasmania.
Tiga seniman asal Indonesia di Australia menceritakan bagaimana mereka harus kehilangan sumber pendapatan karena dampak virus corona
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun
- Dunia Hari Ini: Mobil Tesla Jadi Target Pengerusakan di Mana-Mana
- Kabar Australia: Pihak Oposisi Ingin Mengurangi Jumlah Migrasi