Cerita Rumiati, Mempertaruhkan Nyawa Demi ke Sekolah

Selama tidak ada jembatan, lanjut Yudi, wargannya mengandalkan sebilah bambu. Bambu itu dililitkan kain sarung kemudian dibentuk ayunan untuk dijadikan alat angkut hasil panen. Jika belum musim panen tiba, alat ini jadi langgganan mengendong anak sekolah hingga warga sakit. “Warga sukarela mengantarkan warga lainnya. Ada bahasa sedikasihnya saja,” ungkapnya.
Terpisah, Kepala Desa Sukajaya Ujang Royani, menyebut keinginan warganya begitu besar untuk memiliki jembatan. Warga sudah mengibahkan lahan untuk dijadikan jembatan. Sedikit demi sedikit tiang pancang sudah dibangun sebanyak empat buah. Namun, sudah dua tahun lebih tiang tersebut tidak dilanjutkan.
“Sekarang naik kendaraaan ongkosnya mahal, jual hasil tani butuh biaya bertambah lagi, jadi sampai sekarang warga memilih menyeberang lewat sungai,” ungkapnya.
Warga berharap 100 hari kinerja Bupati Ade Yasin bisa mewujudkan impian warga memiliki jembatan. (don/c/radarbogor)
Rumiati rela menyeberang sungai dengan arus deras itu, karena untuk ke jembatan gantung terdekat harus menempuh jarak lebih dari tujuh kilometer.
Redaktur & Reporter : Adek
- Menjelang Arus Mudik Lebaran, BPH Migas Tegaskan Ketersediaan BBM di Wilayah Bogor Aman
- Begini Langkah Nyata PTPN I Dalam Mendukung Pelestarian Alam di Bogor
- Satpol PP Jabar Ungkap Tantangan Membongkar Hibisc Fantasy Puncak Bogor
- Kronologi Penerbitan Izin Hibisc Fantasy Puncak, Jaswita Kacau
- Polemik Hibisc Fantasy Puncak yang Dibongkar Dedi Mulyadi, Jaswita Buka Suara
- Soal Banjir, Adian PDIP Sarankan Kepala Daerah Jakarta, Bogor, dan Bekasi Ketemu