Citayam Fashion Week
Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Era digital membongkar semua yang awalnya menjadi kemapanan--dan menjadi privilese kelas tetentu—menjadi terakses oleh setiap orang.
Paris Fashion Week, London Fashion Week menjadi ikon budaya modern yang menjadi bagian dari budaya avant garde yang hanya dimiliki dan ditonton oleh sekalangan elite terbatas, tetapi era digital menggugurkan elitisme itu.
Para selebritas Indonesia mencari identitas dengan beramai-ramai datang ke Paris Fashion Week. Mereka hanya jalan-jalan saja di sekitar lokasi dan kemudian mengunggah aktivitasnya di media sosial. Dengan begitu mereka merasa bangga bisa menjadi bagian dari budaya fashion global.
Apa yang mereka cari kalau bukan ingin viral? Tidak ada lain kecuali viral.
Eksistensi manusia digital ditentukan oleh eksistensinya di dunia maya.
Setiap hari manusia digital bekerja ekstra keras melakukan apa saja supaya eksistensinya diakui dan tetap terjaga di dunia maya.
Aku klik maka aku ada. Eksistensi manusia tidak lagi ditentukan oleh pikirannya.
Descarters mengatakan ‘’Aku berpikir, karena itu aku ada’’, Cogito ergo sum, I think therefore I am.
Fenomena Citayam Fashion Week tengah menghebohkan jagat maya. Ada juga yang menyebutnya sebagai Citayam Wave atau Citayam Fashion Show.
- Muhammadiyah Jakarta Minta Izin kepada Pramono Terkait Pembangunan Universitas
- Ikuti Jejak Anies, Pramono Gratiskan Pajak Rumah dengan NJOP di Bawah Rp 2 Miliar
- Pram-Rano Cairkan Bansos Rp 900 Ribu untuk Penerima KLJ, KAJ, dan KPDJ
- 30 Desainer dan 24 UMKM Ramaikan Ramadan Rhapsody 2025
- Damkar DKI Tangani 6.800 Kasus Lainnya di 2024, 4 Kali Lipat Melebihi Kebakaran
- Fajar Alfian Minta Maaf Atas Ucapannya kepada Simpatisan Anies