COVID Varian Campuran Menyebar di Asia Termasuk Indonesia

Menurut pakar penyakit menular Profesor Kim Woo-joo dari Universitas Korea, twindemic diperkirakan terjadi juga di Korea Selatan.
"Sejak akhir Oktober, jumlah kasus harian COVID-19 yang baru terkonfirmasi terus meningkat," kata Dr Kim.
Hal ini karena beberapa penyebab seperti menjamurnya subvarian dari luar negeri, pertemuan massal untuk acara-acara dan pelonggaran pembatasan, meskipun penggunaan masker di dalam ruangan tetap diwajibkan dan masa isolasi tujuh hari tetap disarankan.
"Pemerintah tidak lagi ingin menerapkan langkah-langkah jarak sosial," kata Dr Kim.
Ada juga tingkat kepuasan dari individu, serta tingkat vaksinasi yang rendah untuk dosis keempat dan vaksin bivalen Omicron.
"Meningkatkan tingkat vaksinasi di masyarakat memang diperlukan, tapi tingkat penerimaannya sangat rendah, bahkan dibandingkan dengan Amerika Serikat," ucapnya.
Dr Kim memperkirakan gelombang yang meningkat dengan BQ.1 dan BQ.1.1 muncul sebagai subvarian yang dominan.
Cabang BQ.1 juga diperkirakan akan menyebabkan peningkatan infeksi di Eropa, Amerika Utara, dan Afrika, tapi ceritanya berbeda di Singapura baru-baru ini.
Sejumlah negara di Asia termasuk Indonesia kini mengalami penyebaran COVID-19 varian campuran yang dikenal dengan Varian XXB
- Dunia Hari Ini: Presiden Korea Selatan Yoon Suk Yeol Diturunkan dari Jabatannya
- Babak Baru Perang Dagang Dunia, Indonesia Jadi 'Sasaran Empuk'
- Dunia Hari Ini: Barang-barang dari Indonesia ke AS akan Dikenakan Tarif 32 Persen
- Gempa Myanmar, Indonesia Kirim Bantuan Tahap Tiga
- Warga Indonesia Rayakan Idulfitri di Perth, Ada Pawai Takbiran
- Daya Beli Melemah, Jumlah Pemudik Menurun