Daniel di Balik Byton

Oleh Dahlan Iskan

Daniel di Balik Byton
Dahlan Iskan di antara tanaman quinoa di pegunungan Qinghai pada ketinggian 4.000 meter di atas permukaan laut. Foto: disway.id

Tiongkok melalui Tesla ingin menunjukkan bukti telak: Tesla Shanghai adalah 100 persen perusahaan Amerika.

Baca Juga:

Pun sebelum itu. Sebenarnya  sudah dikeluarkan juga ijzn serupa. Tapi kepada Jerman. Untuk pembangunan pabrik kimia raksasa. Oleh BASF.

Lepas dari itu hadirnya Tesla Shanghai benar-benar menjadi tonggak baru. Bagi dunia mobil listrik di Tiongkok.

To be or not to be.

Yang akan bersaing habis-habiskan adalah para raksasa: BYD, Geely, Nio. Yang sudah lebih dulu eksis di pasar Tiongkok.

Bahkan seperti BYD sudah bertahun-tahun. Enam tahun  lalu pun saya sudah ke pabriknya. Di luar Kota Hangzhou. Mencoba sendiri produk BYD itu.

Tapi akan hadir pula raksasa baru Tiongkok: Byton itu. Perusahaan dari Nanjing. Yang pernah jadi ibu kota Tiongkok. Dengan produk sekelas Tesla Model 3. Yang layar monitornya lebih dramatik.

Jauh lebih wow dari Tesla: seperti 7 iPad dijejer di dashboard-nya. Ditambah satu seukuran iPad lagi. Di tengah kemudinya.

Bikin pabrik mobil listrik memang tidak sesulit mobil bensin. Apalagi di Tiongkok. Membangun pabrik mobil raksasa hanya dalam waktu 12 bulan.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News