Dari Belajar Mengenal Kayu, Listyo Bramantyo Jadi Pembuat Bumerang
Bukan untuk Senjata, Peminatnya Justru Banyak dari Australia

“Itu baru bentuk dan bisa terbang. Tapi kalau memilih kayu, saya sampai sekarang juga masih belajar, karena kontur kayu jadi dasar pembuatan bumerang. Jadi paling tidak kita harus tahu karakter tanaman,” paparnya.
Kini, kolektor tidak hanya memburu bumerang dari bahan pabrikan, tapi juga berbahan baku alami. Tapi memang tidak semua jenis kayu bisa digunakan sebagai bahan baku pembuatan bumerang.
Kayu kemuning, akasia, sawo, walikukun, sono-keling, dan beberapa jenis pohon yang akar maupun batang bercabangnya bisa digunakan sebagai bahan baku. Kayu solid seperti jati pun bisa. Namun, hanya akarnya yang mumpuni untuk digunakan.
Menurutnya, pohon yang biasanya tumbuh lambat dan lama biasanya bisa dimanfaatkan untuk pembuatan bumerang. Namun dari bahan baku itu, hasilnya juga bermacam-macam. Misalnya, kayu jati biasanya jadi bahan baku bumerang yang dimainkan untuk fun.
Sedangkan yang medium biasanya menggunakan akasia. Namun untuk profesional yang membutuhkan lemparan jauh, biasanya menggunakan kayu sonokeling ataupun walikukun.
“Karakter dan serat kayu sam-pai sekarang saya pelajari. Untungnya di Jogja tidak sulit menemukan bahan. Saya juga sudah memiliki kenalan di daerah Dlingo, Bantul, yang mau mencarikan kayu. Kalau cocok, ya saya beli untuk produksi,” ujar salah seorang pencetus Asosiasi Bumerang Indonesia ini.
Soal bahan baku memang tidak sulit. Untuk itu, Listyo berani menawarkan bumerang buatannya tidak hanya ke sesama teman komunitas, namun juga lewat jejaring sosial.
Masuk tahun 2008, dirinya mulai memproduksi bumerang secara intens. Setidaknya dalam sebulan ia bisa membuat 16 bumerang dari kayu, dan puluhan bumerang dari bahan pabrikan. “Kalau pembuatannya sehari jadi, apalagi yang bahan pabrikan, sehari juga bisa buat lima bumerang,” ujarnya
Bentuk bumerang yang unik pun membuat Listyo Bramantyo kepincut. Lelaki asal Kotagede, Jogja itu lantas mempelajari seluk beluk kayu untuk mendapatkan
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu
- Kontroversi Rencana Penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer, Apresiasi Terhalang Stigma Kiri
- Kisah Jenderal Gondrong ke Iran demi Berantas Narkoba, Dijaga Ketat di Depan Kamar Hotel
- Petani Muda Al Fansuri Menuangkan Keresahan Melalui Buku Berjudul Agrikultur Progresif
- Setahun Badan Karantina Indonesia, Bayi yang Bertekad Meraksasa demi Menjaga Pertahanan Negara