Darurat
Oleh: Dhimam Abror Djuraid
Perang melawan pandemi bukan perang simetris dengan musuh yang terlihat dan bisa diperkirakan kekuatannya melalui intelijen militer. Perang melawan pandemi ini adalah perang asimetris karena lawan yang dihadapi tidak simetris.
Muhadjir menceritakan perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia. Dulu, virus Corona diperkirakan tidak menyerang anak-anak dan ibu hamil.
Namun, saat ini muncul varian baru Delta yang jauh lebih ganas dan tidak pandang bulu. Tidak sedikit dari mereka yang menjadi korban meninggal adalah ibu hamil dan anak-anak. Inilah yang oleh Muhadjir disebut perang asimetris.
Dengan alasan itu, kata Muhadjir, Presiden Joko Widodo menerjunkan TNI dan Polri untuk ikut menangani Covid-19 karena sudah tidak bisa dihadapi dengan penanganan biasa. Ini daruratnya sudah darurat militer.
Muhadjir tentu tidak asal bicara atau salah omong. Dia memahami betul anatomi TNI dan menguasai teori-teori militer. Dia paham mengenai epistemologi teori-teori kemiliteran.
Jangan lupa, Muhadjir adalah profesor dan guru besar di Universitas Muhammdiyah Malang. Ia pernah menjadi rektor universitas itu dan menjadikannya sebagai salah satu universitas swasta yang bergengsi di Indonesia.
Tidak banyak yang tahu juga bahwa Muhadjir adalah salah seorang akademisi dengan keahlian khusus di bidang militer.
Muhadjir adalah pengamat militer yang tekun. Ia memperoleh gelar doktor dengan melakukan penelitian terhadap militer. Disertasi itu dibukukan oleh UMM Press berjudul "Profesionalisme Militer: Profesionalisme TNI" (2008).
Seharusnya yang memegang komando sekarang adalah Jenderal Muhadjir, bukan jenderal yang lain.
- Geledah Kantor Presiden, Polisi Korsel Cari Bukti Pengkhianatan
- Usut Kasus Pengadaan APD Covid-19, KPK Periksa Song Sung Wook dan Agus Subarkah
- Otak di Balik Darurat Militer, Eks Menhan Korsel Terancam Berurusan dengan Hukum
- Kemlu RI Pastikan WNI di Korsel Tidak Perlu Dievakuasi
- Dunia Hari Ini: Korea Selatan Membatalkan Darurat Militer
- Umumkan Darurat Militer, Presiden Korsel Langsung Ditinggal Para Penasihat