Dekan FP Unhas Sebut Indonesia Bisa jadi Raksasa Pangan Dunia, Asalkan...
Hal ini mengakbiatkan inefisiensi penggunaan benih dan anakan menjadi sulit dikontrol.
"Di sinilah peran intervensi ketersedian transplanter oleh pemerintah sehingga jarak tanam dan berapa jumlah dalam setiap lobang bisa dikontrol," katanya.
Aspek selanjutnya ialah penerapan mekanisasi.
Salengke mencontohkan bahwa dengan penggunaan Combine Harvester, bukan hanya mempersingkat, tetapi mampu menekan kehilangan (losses) panen.
Namun, dia mengingatkan bahwa sektor pertanian hari ini dan masa datang menghadapi hal krusial, yaitu alih fungsi lahan pertanian produktif menjadi lahan komersil lainnya dan ketersediaan air.
Jika dua hal itu tidak ditangani secara komprehensif, ke depan menurutnya akan menjadi masalah.
Dia mengatakan bisa menggunakan teknologi molekuler seperti gen editing yang menjadi solusinya.
Ada Inventor dari Inggris menggunakan teknologi tersebut untuk mengembangkan padi yang tahan salinitas tinggi, sehingga dapat ditanam pada lahan rawa dekat pantai.
Dekan Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin Salengke mengatakan Indonesia sangat berpeluang menjadi raksasa pangan dunia.
- Bagaimana Cara Daftar Brigade Swasembada Pangan? Ini Penjelasan Kepala BPPSDMP Kementan
- Usut Kasus Korupsi Pengadaan X-Ray Kementan, KPK Panggil Sunarto Sulai
- Gelar Rapat Maraton, Mentan Amran Ingin Buat Lompatan Besar Menuju Swasembada Pangan
- Kementan Beri Pendampingan dan Penerapan Mekanisme ke Petani di Merauke
- Kementan Perkuat Integrasi Pelaku Usaha Dukung Daya Saing Produk Hortikultura Lewat Forum Ini
- Dukung Pangan Bergizi, Kementan Gelar Bimbingan Teknis Pemanfaatan Pekarangan