Desa Bengkala di Buleleng, Kampung dengan Jumlah Warga Bisu-Tuli Terbanyak di Bali
Tak Bisa Dengar Musik, Gerakan Penari Andalkan Aba-Aba Tangan
Jumat, 26 Agustus 2011 – 08:08 WIB

Desa Bengkala di Buleleng, Kampung dengan Jumlah Warga Bisu-Tuli Terbanyak di Bali
Munculnya kelas inklusi yang menghadirkan siswa kolok dari desa setempat membuat sekolah itu pun mau tidak mau harus mempersiapkan guru yang memang mengerti bahasa siswa khusus tersebut. Tujuannya, transfer ilmu bisa terjadi dari guru ke murid. Guru pendamping itu sekaligus dibutuhkan untuk mengetahui persis psikologis para siswa kolok.
"Jika tidak didampingi guru yang mengerti bahasa tubuh, mereka sulit menerima pelajaran. Apalagi kalau tidak mengetahui psikologis mereka," papar Ketut Kanta, guru inklusi pertama di SDN 2 Bengkala.
Terkait proses awal siswa-siswa kolok itu bisa bergabung dengan siswa normal lainnya di kelas, termasuk hambatan yang kerap muncul, Ketut yang sempat melanglangbuana ke Belanda sebagai salah seorang tutor kolok itu menyatakan, awalnya mereka memang mendapatkan pendidikan tersendiri.
Tujuannya, mempersiapkan siswa kolok tersebut beradaptasi saat bersama siswa normal. Lama isolasi bergantung siswa kolok dalam merespons materi yang diberikan tutor. "Paling lama setahun. Setelah itu, mereka sudah bisa digabung dan masuk dalam kelas normal," bebernya.
Semakin banyak saja jumlah warga yang bisu-tuli di Desa Bengkala, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali. Data terakhir menyebutkan, jumlah
BERITA TERKAIT
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Saat Hati Bhayangkara Sentuh Kalbu Yatim Piatu di Indragiri Hulu
- Kontroversi Rencana Penamaan Jalan Pramoedya Ananta Toer, Apresiasi Terhalang Stigma Kiri
- Kisah Jenderal Gondrong ke Iran demi Berantas Narkoba, Dijaga Ketat di Depan Kamar Hotel
- Petani Muda Al Fansuri Menuangkan Keresahan Melalui Buku Berjudul Agrikultur Progresif
- Setahun Badan Karantina Indonesia, Bayi yang Bertekad Meraksasa demi Menjaga Pertahanan Negara