Dewan Pakar: Pelabelan BPA Tidak Efektif, Produksi dan Distribusi yang Diperketat

Dalam kaitannya dengan BPA di galon guna ulang, dari kasus konsumsinya, dia melihat belum ada evidence based yang cukup.
Menurut Hermawan, kalau memang ada indikasi zat berbahaya pada suatu produk tertentu, solusinya bukan pelabelannya, tetapi pada produksi dan distribusinya.
"Jadi, bukan pada kendali perilaku, kalau berbahaya harus dikendalikan dari produksi dan distribusi,” cetusnya.
Dia menegaskan bahwa tidak boleh mencoba-coba produk yang digulirkan hanya sekadar melabeli. Hal itu mengingat masyarakat yang asimetris informasi tidak mungkin mengetahui kandungan zat kimia yang luar biasa, apalagi tahapannya itu berkaitan dengan bahan baku dan bukan bahan jadi.
"Kalau bicara galon, kan yang dibicarakan produk jadinya. Produk jadi itu bisa aman, tetapi bahan bakunya yang tidak aman. Jadi, di situlah memang dari perspektifnya,” ucap Hermawan.
Dia melihat sebuah keanehan jika pejabat BPOM menyampaikan bahwa pelabelan “berpotensi mengandung BPA” terhadap galon guna ulang berkaitan dengan kendali distribusi. Secara kesehatan masyarakat melihat pelabelan BPA itu tidak terlalu efektif.
"Lebih baik tidak usah. Kalau memang ada zat yang dikhawatirkan, itu seharusnya yang diawasi pada produksi dan distribusinya saja,” pungkasnya. (esy/jpnn)
Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat mengatakan pelabelan BPA tidak efektif, seharusnya produksi dan distribusi yang diperketat.
Redaktur : Djainab Natalia Saroh
Reporter : Mesyia Muhammad
- KKI Temukan 40% Galon Guna Ulang Sudah Berusia di Atas 2 Tahun, Ini Bahayanya
- KKI: 75% Distribusi Galon Guna Ulang Tidak Penuhi Standar Keamanan
- Riset Terbaru USU Perkuat Deretan Bukti Ilmiah, BPA Tidak Terdeteksi pada AMDK
- Penelitian Terbaru USU: BPA Tak Terdeteksi pada AMDK yang Terpapar Sinar Matahari
- KKI Soroti Ketidakmerataan Distribusi Galon Bebas BPA
- Cuma Indonesia yang Ribut soal Galon Polikarbonat, Eropa & Amerika Santai Saja