Di Balik Kelemahan Selalu Tersimpan Kekuatan
Senin, 13 Juni 2011 – 22:16 WIB
Perusahaan-perusahaan seperti Nestle, Sinarmas, Unilever, Cargill, Dupont, Monsanto, Metro, Mckenzie, ADM, Indofood, Swiss RE, Bungee, dan Sygenta itu tidak hanya mendorong produksi pangan di level hulu. Tetapi juga memaksimalkan di level hilir. Mereka berencana membangun pabrik di Indonesia agar sekaligus memberdayakan dan membeli hasil produksi petani. Kita mendapatkan nilai tambah, karena pengelolaan dilakukan di dalam negeri.
Ini hanyalah satu contoh, implementasi dari Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang dilaunching bulan lalu. Inilah pentingnya grand design ekonomi kita, agar bisa menjamin untuk terus memfasilitasi percepatan investasi swasta sesuai kebutuhannya. Juga terus mendorong investasi, mengintegrasi pendekatan sektoral dan regional, meningkatkan nilai tambah, memantik inovasi, dan tetap menjadi regulator, dan katalisator yang mempercepat proses.
Hal lain yang sempat menjadi topik adalah soal penghentian impor sapi hidup dari Australia selama enam bulan ke depan. Mengingat, akhir Juli 2011 memasuki bulan puasa, dan tentu akhir Agustus 2011 masuk Lebaran. Kebutuhan daging sapi pasti meningkat tajam, sementara sekarang sudah pertengahan Juni? Inilah yang saya bilang, saatnya kita membangun kepercayaan diri. Biasanya di tengah kesulitan selalu berkeliaran ide-ide brilian. Mengapa kita tidak berjuang lebih keras untuk mewujudkan swasembada daging sapi? Kapan lagi kalau tidak sekarang? Ini ada momentum yang tepat.
Kalau selama ini kita impor 500.000 sapi per tahun, atau 60 persen dari perdagangan ternak hidup di Indonesia? Mengapa kita tidak berani bekerja lebih keras untuk mengisi space perdagangan yang kosong itu? Selain, memang penyiksaan hewan sebelum disembelih di rumah pemotongan hewan itu juga harus ditertibkan? Juga harus tetap menjaga komunikasi dan koordinasi dengan pemerintah Australia?