Di Forum Dunia, Gus Yahya Dorong Rekontekstualisasi Agama-Agama Ibrahimiyah

"Dimensi sosial-politik dari terma kafir sebenarnya terkait konteks keberadaan satu teokrasi tunggal yang universal yang sekarang sudah tidak ada lagi," kata dia.
Dalam kesempatan itu, Monsignor Khaled Akasheh, seorang uskup Katholik asal Yordania, menyatakan amat terharu mendengar paparan di Vatikan itu.
"Ini adalah perwujudan mimpi saya selama 25 tahun," katanya.
Dia menegaskan bahwa bukan hanya Islam yang perlu melakukan rekontekstualisasi semacam itu. Semua agama-agama dari keluarga Ibrahimiyah harus melakukannya.
Khaled Akasheh menjelaskan bahwa Gereja Katholik telah memulai upaya tersebut sejak didirikannya Dewan Ekumenikal Vatikan Kedua pada masa Paus Johanes XXIII pada 1962.
"Agama-agama Ibrahimiyah harus merenungkan kembali hakikat kehadiran dan perannya dalam konteks realitas Abad ke-21 ini," katanya.
Wakil dari kalangan Yahudi ultra ortodoks Israel serta-merta menyambut ajakan itu dengan antusias.
Rabinat Adina Bar Shalom, puteri mendiang Rabi Ovadia Yosef yang dulu adalah Rabbi Kepala (Chief Rabbi) Sephardi yang paling berpengaruh di kalangan Yahudi ultra ortodoks di Israel, mengajak untuk menciptakan momentum bersama.
Nahdlatul Ulama telah melakukan upaya-upaya rekontekstualisasi fikih yang telah dilakukan di lingkungan NU sejak 1984.
- Peringati Hari Al Quds Sedunia, Ribuan Massa Padati Gedung Grahadi Surabaya
- Menpora Dito Apresiasi Kegiatan Majelis Tilawah Al-Quran Antarbangsa ke 15 DMDI
- Ustaz Cholil Bicara tentang Islam dan Pertambangan Berkelanjutan
- Musala Al-Kautsar di Tepi Musi, Destinasi Wisata Religi Warisan Keturunan Wali
- Jadi Mualaf, Richard Lee Ungkap Alasan Sempat Rahasiakan
- Wamenag Minta PUI Inisiasi Silaturahim Akbar Ormas Islam