Dian Siswarini Ungkap Bentuk Diskriminasi yang Kerap Dihadapi Perempuan

"Contohnya, perempuan yang bekerja tetap dianggap harus memiliki paruh utama dari sisi kehidupan yang lain," ujar Dian.
Dia menilai pekerja perempuan tetap memiliki tanggung jawab utama dalam rumah tangga yang jarang dihargai.
Bentuk diskriminasi lainnya ialah marginalisasi ekonomi akibat konstruksi gender.
Dengan begitu, perempuan dianggap sebagai mahkluk domestik yang hanya diarahkan untuk mengurus rumah tangga.
Hal ini dinilai membatasi akses perempuan terhadap kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang setara dengan laki-laki.
"Hal ini terlihat dari tingkat partisipasi angkatan kerja global, yaitu perempuan hanya di bawah 47 persen," ungkap Dian.
Dia menambahkan beberapa negara memiliki kesenjangan antara pekerja laki-laki dan perempuan lebih dari 50 persen.
"Kemudian, yang keempat ialah subordinasi yang menganggap kedudukan perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki sehingga perempuan tidak memiliki hak untuk menyuarakan pendapatnya atau mengambil keputusan," papar Dian.
Co-Chair of W20 Dian Siswarini membeberkan jenis-jenis diskriminasi yang terjadi terus menerus.
- Keren! Rumah Tamadun Ubah Limbah Jadi Lapangan Kerja Bagi Perempuan dan Warga Binaan
- Asyik, Seluruh Perempuan Gratis Naik Transjakarta-MRT pada Hari Kartini
- Polisi Ungkap Misteri Penemuan Mayat Perempuan di Cimahi, Ternyata
- Siti Fauziah: Perempuan Perlu Support System Lebih Kuat Agar Bergerak di Bidang Ekonomi
- Ketimpangan Gender Masih jadi Persoalan di Indonesia, Perlu Kolaborasi Lintas Sektor
- WRP Indonesia Dukung Perempuan Menjalani Ramadan Lebih Sehat, Punya Bisnis Fleksibel