Diguyur Hujan, Mandi Safar Tetap Sakral

“Kesepakatan para ulama dan tokoh adat, mandi safar ini bukan ritual keagamaan. Ini hanya seremoni rutin turun-temurun,” katanya.
Prosesi mandi safar itupun, sambung Yahya, sangat sederhana yakni, masyarakat yang ingin mandi bercebur ke sungai mentaya diberikan daun sawang sebagai syarat supaya tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. “Mandi safar itukan hanya untuk membersihkan diri dari sifat kebencian, keangkuhan maupun menang sendiri. Bukan acara ritual keagamaan,” tegas mantan Camat Cempaga ini.
Dengan adanya wisata budaya mandi safar ini, lanjutnya, kunjungan wisata yang ingin melihat lebih dekat mengenai kebudayaan yang dimiliki Kotim diharapkan kedepannya semakin meningkat.
“Terima kasih atas dukungan semua pihak sehingga kegiatan ini berjalan sukses dan lancar,” ucapnya. (oes/fin/ton)
SAMPIT – Cuaca tak bersahabat mewarnai pelaksanaan tradisi mandi safar di Kota Sampit, Kalteng, Rabu (17/12). Meski diguyur hujan deras pelaksanaannya
Redaktur & Reporter : Tim Redaksi
- Gunung Ibu Erupsi, Semburkan Abu Vulkanik Setinggi 400 Meter
- Geger Mayat Tanpa Identitas di Lampung Selatan, Ini Ciri-cirinya
- Kirab Mahkota Binokasih Warnai Hari Jadi ke-543 Kabupaten Bogor
- Dilaporkan ke Polda Jateng, Bambang Wuragil Dituduh Telantarkan Anak
- Festival Budaya di Rumah Singgah Tuan Kadi, Harmoni Melayu & Seruan Peduli Lingkungan
- Pendaki Gunung Ranai Dievakuasi Setelah Terpeleset dan Mengalami Cedera Kaki